KORANPELITA.CO – Erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara hari ini (8/5) kembali menunjukkan bahwa gunung api aktif tidak pernah bisa diperlakukan sebagai ruang wisata biasa. Dua warga negara asing dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya harus dievakuasi dari kawasan berbahaya.
Dukono adalah gunung dengan aktivitas erupsi yang nyaris terus-menerus, sehingga setiap pelanggaran radius bahaya selalu mengandung risiko fatal. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari dampak infodemik kebencanaan.
Di media sosial, publik lebih sering melihat video pendaki atau influencer yang berhasil naik lalu pulang dengan selamat. Konten seperti itu perlahan membentuk distorsi persepsi risiko. Orang menjadi merasa aman bukan karena kondisi gunung benar-benar aman, tetapi karena melihat orang lain tampak baik-baik saja di dalam video.
“Dalam ilmu kebencanaan, keselamatan sebagian orang tidak pernah dapat dijadikan dasar untuk menilai tingkat bahaya. Fenomena ini dikenal sebagai survivorship bias. Publik hanya melihat mereka yang berhasil turun dan mengunggah konten dramatis, sementara potensi ancaman yang terjadi saat itu menjadi tidak terlihat,” ucap Dr. Daryono, Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) dalam keterangannya melalui sambungan telepon, Jakarta, Jum’at (8/5/2026).
Lanjut Daryono, bahaya sebenarnya tetap ada dan bisa muncul sewaktu-waktu dalam bentuk lontaran material pijar, hujan abu pekat, gas vulkanik, maupun erupsi eksplosif mendadak.
“Inilah wajah infodemik dalam mitigasi bencana, yakni ketika informasi viral lebih dominan daripada informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan dari otoritas kebencanaan terkait. Akibatnya, rekomendasi ilmiah untuk keselamatan masyarakat dianggap berlebihan, sementara konten media sosial justru dijadikan acuan keselamatan,” terang pria asal Kota Semarang ini.
“Tragedi Gunung Dukono hari ini menjadi pengingat bahwa alam tidak pernah tunduk pada popularitas influencer dan video “selamat mendaki”, tidak pernah cukup untuk membatalkan risiko bencana,” tandasnya.
Berdasarkan pendataan sementara dari Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, total terdapat 20 orang pendaki yang berada di kawasan Gunung Dukono, terdiri dari sembilan warga negara asing (WNA) asal Singapura, tiga orang warga dari Ternate dan delapan warga lokal dari wilayah sekitar.
Sesaat setelah terjadi erupsi, BNPB bersama Badan Geologi dan PVMBG telah melakukan koordinasi terkait perkembangan aktivitas Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Berdasarkan hasil komunikasi sementara Badan Geologi telah melakukan pemantauan secara konsisten terhadap aktivitas vulkanik Gunung Dukono dan rutin menyampaikan peringatan dini kepada pihak terkait mengenai peningkatan aktivitas gunung api tersebut. (red/*)

![[UPDATE] Erupsi Gunung Dukono: Tiga Orang Pendaki Masih Dalam Pencarian](https://koranpelita.co/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260508_193159-218x150.jpg)

