Diskusi Novel “Cinta, Kopi dan Kekuasaan” Angkat Sejarah, Ketimpangan, dan Harapan Baru Petani Kopi Cianjur

Cianjur, koranpelita.co – Diskusi buku Cinta, Kopi dan Kekuasaan: Kesaksian Nyai Apun Gencay karya Saep Lukman digelar di Teater Kecil Kopi Sarongge Desa Ciputri Kecamatan Pacet Cianjur, Rabu (16/4), berhasil menghadirkan ruang dialog lintas disiplin yang mempertemukan sastra, sejarah, dan realitas sosial.

Kegiatan ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, dosen, petani kopi, hingga budayawan dan peneliti.

Acara tersebut menghadirkan langsung penulis Saep Lukman, jurnalis senior sekaligus pengelola Kopi Sarongge Tosca Santoso, serta seorang penulis sejarah terkemuka Hendi Jo.

Diskusi berlangsung dinamis dengan mengangkat isu-isu penting terkait sejarah kopi, kolonialisme, dan transformasi sosial masyarakat Cianjur.

Saep Lukman dalam pemaparannya menegaskan bahwa novel yang ia tulis merupakan bentuk tafsir atas sejarah yang selama ini cenderung elitis. Ia menyebut bahwa karya tersebut berangkat dari kegelisahan melihat narasi sejarah kopi yang lebih banyak memuliakan aspek ekonomi, namun mengabaikan pengalaman pahit masyarakat kecil.

“Sejarah tidak hanya milik mereka yang berkuasa, tetapi juga milik mereka yang hidup dan merasakannya. Novel ini adalah upaya menghadirkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan,” ujar Saep.

Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa pada masa kolonial, wilayah Priangan termasuk Cianjur menjadi salah satu pusat produksi kopi dunia melalui sistem tanam paksa atau Preangerstelsel. Sistem ini menjadikan kopi sebagai komoditas ekspor utama, tetapi dengan konsekuensi sosial yang berat bagi masyarakat lokal.

BACA JUGA:  Pembukaan Pengajian Majelis Taklim Nurul Iman Jadi Momentum Perkuat Silaturahmi Warga

Tosca Santoso menjelaskan bahwa meskipun kopi membawa nama besar bagi Cianjur di panggung global, praktik di lapangan justru sarat eksploitasi. Petani dipaksa menanam kopi dalam sistem yang membatasi pilihan hidup mereka, bahkan sering kali tanpa imbalan yang layak.

“Dalam sejarahnya, kopi adalah simbol kekuasaan. Ia menghubungkan pasar global, tetapi memutus kedaulatan lokal. Itu yang harus kita pahami secara kritis hari ini,” kata Tosca.

Ia menambahkan bahwa dalam konteks kekinian, industri kopi seharusnya bergerak ke arah yang lebih adil dengan memastikan kesejahteraan petani sebagai pelaku utama. Menurutnya, rantai distribusi yang transparan dan berkeadilan menjadi kunci untuk menghindari pengulangan sejarah yang sama.

Novel Cinta, Kopi dan Kekuasaan menghadirkan tokoh utama Nyai Apun Gencay sebagai simbol generasi yang hidup dalam ketidakpastian dan tekanan sosial. Melalui karakter ini, pembaca diajak menyelami kehidupan masyarakat agraris yang berhadapan dengan sistem kolonial yang menindas.

Saep Lukman menggambarkan bahwa tokoh Apun tidak hanya berdiri sebagai individu, tetapi juga sebagai representasi pengalaman kolektif. Relasinya dengan Ambu, sang ibu, menjadi ruang penting dalam mentransmisikan nilai, tradisi, dan ketahanan hidup di tengah situasi sulit.

BACA JUGA:  Pembukaan Pengajian Majelis Taklim Nurul Iman Jadi Momentum Perkuat Silaturahmi Warga

Selain itu, tokoh Yudira dalam novel hadir sebagai representasi kesadaran kritis generasi muda yang mulai mempertanyakan ketidakadilan. Namun, perlawanan yang digambarkan tidak bersifat heroik secara instan, melainkan melalui pergulatan batin yang kompleks.

“Perlawanan itu tidak selalu lantang. Kadang ia hadir dalam diam, dalam pilihan kecil yang penuh risiko,” ujar Saep menambahkan.

Sejarah Cianjur dalam Perspektif Kritis

Hendi Jo dalam diskusi tersebut mengaitkan isi novel dengan konteks sejarah lokal Cianjur, khususnya pada masa pemerintahan Raden Aria Wiratanu Datar III. Ia menjelaskan bahwa relasi antara elite lokal dan kekuasaan kolonial menjadi bagian penting dalam memahami dinamika sosial saat itu.

Menurut Hendi, novel ini memiliki kekuatan dalam menghadirkan sejarah sebagai sesuatu yang hidup dan dapat diperdebatkan. Ia menilai pendekatan sastra mampu membuka ruang interpretasi yang lebih luas dibandingkan narasi sejarah formal.

“Sejarah tidak pernah tunggal. Apa yang dilakukan Saep adalah menghadirkan kemungkinan tafsir lain yang lebih dekat dengan pengalaman manusia,” kata Hendi yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cianjur itu.

BACA JUGA:  Pembukaan Pengajian Majelis Taklim Nurul Iman Jadi Momentum Perkuat Silaturahmi Warga

Ia juga mengapresiasi keberanian penulis dalam mengangkat isu-isu sensitif seperti ketimpangan sosial dan relasi kuasa, yang masih relevan hingga saat ini. “Diiskusi semacam ini tentu menjadi penting, sebab kita berbicara tidak hanya berhenti pada pembacaan masa lalu, tetapi juga menyoroti pentingnya membangun masa depan industri kopi yang lebih berkeadilan. Sebab sejarah harus menjadi pelajaran agar praktik eksploitasi tidak terulang,” paparnya.

Dalam diskusi yang juga dimeriahkan oleh penampilan tari dari anak-anak petani Sarongge ini, Hendi berkeyakinan karya novel sejarah seperti Cinta, Kopi dan Kekuasaan, dapat menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan yang lebih luas. Sehingga dia menekankan pentingnya kolaborasi antara sastra, sejarah, dan kebijakan publik dalam membangun kesadaran kolektif yang lebih baik.(Man Suparman).