Jakarta, Koranpelita.co – Persiapan Operasi Ketupat 2026 kian dimatangkan. Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Korps Lalu Lintas Polri memastikan seluruh skenario pengamanan arus mudik dan balik Lebaran disusun secara detail, terukur, dan berbasis pemetaan kerawanan.
Langkah strategis yang dipimpin Kakorlantas, Agus Suryonugroho, dinilai sejumlah kalangan sebagai upaya serius negara mengantisipasi potensi lonjakan kendaraan pada puncak arus mudik 2026.
Pengamat lalu lintas dan transportasi, Banter Adis, menilai pendekatan yang ditempuh tidak lagi bersifat reaktif, melainkan preventif dan komprehensif. Menurutnya, pola pengamanan tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Persiapan tidak hanya bicara rekayasa lalu lintas, tapi juga pengecekan menyeluruh terhadap infrastruktur jalan, rest area, hingga kesiapan moda transportasi darat, laut, dan udara. Ini pendekatan sistemik,” ujar Adis, Rabu (04/03/2026).
Salah satu strategi utama yang disiapkan adalah pelaksanaan Tactical Floor Game (TFG). Melalui simulasi ini, jajaran Korlantas memetakan titik rawan kemacetan, potensi kecelakaan, hingga skenario kepadatan ekstrem di jalur-jalur utama seperti Tol Trans Jawa dan akses menuju pelabuhan penyeberangan.
Dari pemetaan tersebut, skema rekayasa lalu lintas seperti contraflow, one way, dan sistem ganjil genap disiapkan dengan parameter yang lebih presisi. Tujuannya jelas: mencegah penumpukan kendaraan sebelum terjadi kemacetan parah.
“Pendekatan berbasis simulasi jauh lebih efektif dibanding menunggu masalah muncul di lapangan,” tegas Adis.
Selain strategi teknis, pendekatan humanis juga digencarkan. Program Polantas Menyapa diperluas untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keselamatan berlalu lintas.
Bahkan, kampanye keselamatan dikemas kreatif melalui peluncuran lagu bertema mudik berjudul “Mudik Tertib Ojo Kesusu”. Lagu tersebut diharapkan mudah diterima publik dan mampu membangun kesadaran kolektif agar tidak terburu-buru selama perjalanan.
Tagline “Mudik Aman, Keluarga Bahagia” ditegaskan bukan sekadar jargon. Menurut Adis, pesan itu mengandung makna strategis: keselamatan adalah fondasi kebahagiaan saat Idulfitri.
“Sering kali kecelakaan terjadi bukan karena jalan sempit, tetapi karena pengemudi lelah, memaksakan diri, atau tidak disiplin. Kampanye seperti ini penting,” ujarnya.
Selain kelancaran arus kendaraan, aspek keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) juga menjadi perhatian. Pengamanan jalur mudik, rest area, terminal, stasiun, dan pelabuhan diperkuat untuk mencegah gangguan kriminalitas.
Pendekatan terpadu ini, menurut Adis, menunjukkan keseriusan negara dalam memastikan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas).
“Negara harus hadir penuh dalam momentum mudik. Tradisi tahunan ini bukan sekadar perjalanan, tetapi pergerakan sosial terbesar yang menyangkut jutaan warga,” katanya.
Meski kesiapan aparat dinilai matang, Adis mengingatkan bahwa keberhasilan Operasi Ketupat tidak hanya bergantung pada aparat. Disiplin pemudik menjadi kunci utama.
Ia mengimbau masyarakat memastikan kendaraan dalam kondisi prima, menjaga kesehatan selama Ramadan, serta tidak memaksakan diri berkendara dalam kondisi lelah.
“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Jika aparat sudah siap, masyarakat juga harus siap. Jangan sampai kelalaian kecil berujung fatal,” tegasnya.
Dengan sinergi aparat, pemangku kepentingan, dan partisipasi aktif masyarakat, mudik 2026 diharapkan berjalan lebih tertib, aman, dan minim kecelakaan—selaras dengan semangat besar: perjalanan selamat, keluarga pun bahagia. (D.Z).



