KORANPELITA.CO – Perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-80 di Istana Negara terlihat sangat meriah. Rangkaian peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI ini digelar dengan semangat kebersamaan, kegembiraan, dan optimisme.
Menyoroti perayaan HUT RI ke-80 di Istana Negara, pengamat kebijakan Jerry Massie, mengatakan ada tiga hal yang patut dicermati oleh masyarakat.
Pertama, saat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengganti dasinya, yang awalnya berwarna merah menjadi biru muda.
“Saya kira pergantian dasi Gibran dari merah ke biru hanya terpaksa. Dasi politik ini seperti alegori politik menyiratkan bahwa Gibran lupa kalau dia bukan bagian PDIP dan dia sudah di dipecat sebagai kader PDIP,” kata Direktur Poliltic and Pubic Policy Studies (P3S) ini melalui sambungan selulernya, Jakarta, Rabu (19/8/2025).
Lanjutnya, awalnya Gibran ingin merayu PDIP agar melirik dia lagi atau memanggil dirinya untuk menjadi kader lagi. Tetapi, menurut Jerry, hal tersebut agak sulit, karena Megawati telah menghapusnya di PDIP.
”Saya pikir ini sifat buruk Gibran, yang mirip dengan ayahnya yang tak jelas. Dan ini secara tersurat dan tersirat bagian kode penghianatan politik Gibran pada Prabowo,” bebernya.
Hal kedua, yang perlu dicermati adalah sepatu terbalik Jokowi. Jerry menilai ini sebagai perwujudan dari sifat terbalik dari sang “Raja Jawa” ini.
“Atau bisa juga kode sepatu terbalik, ingin memberikan sinyal kepada Prabowo. Jokowi dan Gibran sulit dikasih hati dan kepercayaan. Sifat berkhianat sangat kuat pada bapak dan anak ini,” ujarnya lagi.
Hal ketiga adalah, pilihan pakaian adat oleh Bahlil Lahadalia, yang merupakan Menteri ESDM pada Kabinet Prabowo dan selaku Ketua Umum Partai Golkar. Ia menilai pilihan Bahlil untuk mengenakan pakaian adat Solo, menjadi sinyal kesetiaan Bahlil pada Jokowi.
“Harusnya Bahlil memakai baju kebesaran daerahnya Buton Sulawesi Tenggara atau Papua tempat dia dibesarkan,” ujar Jerry.
Ia menyatakan, para pengamat gestur mungkin bisa lebih membaca dari pilihan dasi, sepatu terbalik, hingga pilihan baju adat ini. Dari sisinya, ia menilai hal ini adalah kesengajaan untuk mencari perhatian (caper) dari audiens yang hadir dalam perayaan HUT RI ke-80 pada tiga figur tersebut.
“Kalau Jokowi selalu memakai baju putih pun, lantaran dia masih menggangap dirinya presiden. Jarang dia pakai kaos atau pakaian lain selain baju putih. Atau, ada indikasi mereka (Jokowi Cs) marah lantaran upacara proklamasi RI tak dilakukan di IKN Kalimantan,” tutupnya. (red)



