Saran Yusuf Wanandi Capres Cukup Dua Pasang saja, Pakar : Anti Demokrasi!

Muslim Arbi.

Artikel ini dibuat oleh Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu

KORANPELITA.CO – Yusuf Wanandi (Liem Bian Kie) Pendiri Lembaga Peneliti CSIS sarankan agar capres cukup dua pasang saja.

Video pendek itu cuplikan dari wawancara Rosianna Silalahi presenter Kompas tv beberapa lalu dengan Liem Bien Kie.

Video pendek itu dikirim oleh ketua DPD RI Kakanda La Nyala Mattalitti melalui japri ke WA saya.

Video itu diserta narasi ‘Apa pendapat Anda terhadap Yusuf Wanandi (Liem Bian Kie) yang menyarankan capres cukup pasang saja???

Setelah buka video yang berdurasi 1:33 menit itu saya tertarik menanggapinya.

Menurut hemat saya :

Saran Yusuf Wanandi ini tidak mencerminkan kehendak rakyat dan anti demokrasi. Tidak rasional dan dalam psikologi sosial dapat menimbulkan ketidak puasan di masyarakat. Terkesan pilpres dan pemilu 2024 sudah diatur.

Itu harus di hindari. Mestinya tidak usah bangun narasi seperti itu. Biarkan saja koalisi – koalisi saat ini berjalan. Dan tidak perlu di jegal atau di bonsai menjadi hanya dua saja.

BACA JUGA:  Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila, Wabup Katamso Soroti Pentingnya Persatuan Bangsa

Ya dua pasang saja itu dapat diartikan ada upaya untuk bikin koalisi besar. Berhadap dengan koalisi kecil?

Tapi nampaknya koalisi besar tidak dikehendaki. Karena kalau sudah ada capres Anies (KPP) dan Ganjar (PDIP). Apakah Gerindra, PAN dan Golkar akan manut untuk gabung ke koalisi yang di bangun istana?

Sebaiknya jika koalisi yang sudah ada dengan capres masing – masing : PDIP – Ganjar dan KPP (Koalisi Perubahan dan Persatuan) biarkan saja lakukan konsolidasi.

Dan jika Gerindra – Golkar masih memungkin untuk bikin 2 poros lagi maka itu adalah hak demokratis Golkar dan Gerindra untuk bentuk koalisi. Jangan ada tekanan terhadap Gerindra dan Golkar untuk gabung dengan koalisi istana.

BACA JUGA:  Harlah Pancasila 2026, Gubernur Banten Ajak Perkuat Komitmen Kebangsaan di Peringatan Hari Lahir Pancasila

Jika Gerindra, Golkar dan PAN di tekan untuk gabung dengan koalisi istana (PDIP-Ganjara) karena Ketumnya Prabowo dan Airlangga, juga Zulhas adalah anggota kabinet?.

Maka itu tindakan otoriter dan pemaksaan kehendak istana. Jika itu yang dilakukan oleh Jokowi, tindakan itu dapat dianggap sebagai ‘cawe-cawe cara Jokowi?’.

Tindakan Jokowi seperti itu dianggap anti demokrasi dan pemaksaan kehendak kekuasaan. Jokowi dapat dianggap berpolitik praktis untuk kepentingannya.

Jadi biarkan saja, Gerindra dan Golkar bentuk poros sendiri. Itu lebih elegan dan demokratis tanpa tekanan dan intervensi.

Jika hanya di desain dua poros saja. Pasti ada tekanan dan intervensi baik terhadap Gerindra maupun Golkar. Demikian juga terhadap PAN. Yang Mentrinya jabat sebagai Mendag (Menteri Perdagangan).

Penekanan terhadap Gerindra, Golkar dan PAN oleh istana agar manut adalah pada kepentingan dan keputusan istana agar hanya ada 2 pasang capres saja seperti usul Liem Bian Kie itu, dapat dianggap sebagai wakil oligarki untuk tekan istana.

BACA JUGA:  Wali Kota Tangsel Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Amalkan Nilai-nilai Pancasila Sebagi Pedoman

Istana tidak perlu dengarkan pendapat Yusuf Wanandi. Karena itu berakibat pada penekanan dan tidak demokratis.

Biarkan saja lebih dari 2 pasang capres. Bila perlu 3 atau 4 pasangan capres. Agar demokrasi lebih berkualitas, berwarna dan bermutu dan sehat serta elegan.

Biarlah Rakyat yang ambil keputusan sesuai hak konsitusinya tanpa di bonsai menjadi hanya dua pasang Capres saja.

Depok, 7 Juni 2023

(***)