SEMARANG, koranpelita.co – Usai perayaan Idul Fitri selanjutnya perayaan Syawalan dimulai. Sejumlah daerah di Jawa Tengah pun mulai mempersiapkan perayaan tersebut dengan berbagai tradisi.
Perayaan Syawalan ini dikenal juga dengan nama ‘Lebaran Ketupat’ (kupat dalam bahasa Jawa). Yang unik, di Semarang terdapat sebuah tradisi syawalan yang disebut tradisi ‘Kupat Jembut’.
Lebaran di Kota Semarang rasanya tak lengkap jika tidak hidangan lebaran yang satu ini. Meski namanya bikin salah fokus, namun menu kuliner yang satu ini sangat mahsyur di Semarang. Apa itu? Ya, namanya ‘Kupat Jembut’.
Kupat ini dibuat dari bungkus daun kelapa muda (janur) atau di masyarakat Semarang itu dari daun bambu muda. Ketupat bentuknya segi empat lalu dibelah diagonal tetapi enggak putus. Lalu didalamnya disisipkan toge jadi tampilannya seperti organ kelamin perempuan.
Awalnya, isian ketupat hanyalah toge karena sejarah awal tradisi ini dimulai warga hanya dengan toge untuk jadi isian ketupat. Dalam perkembangannya warga menambah kubis (kol) dan kacang-kacangan.
Karena didalamnya sudah ada sayur dan bumbu, Kupat Jembut ini sudah terasa lezat meski tidak ditambahkan opor ayam atau sayur bersantan lainnya.
Kupat Jembut ini hanyalah salah satu jenis ketupat yang berisi sayuran kecambah atau taoge dan sambal kelapa.
Adapun filosofi toge dan sambal kelapa dimaksudkan untuk melambangkan sebuah kesederhanaan dalam hidup dengan tidak melulu kemewah-mewahan. Sedangkan dibelah tengah dan dimasukkan isi sayuran dimaksudkan bahwa antar warga sudah saling melepas kesalahan.
Kupat Jembut merupakan sebuah simbol kesederhanaan. Sebab, kupat tersebut digunakan untuk merayakan Syawalan, tanpa opor sebagaimana tradisi di Jawa yang identik dengan lontong opor. Mengingat pembuatan kupat ini jelas lebih murah dibanding untuk membuat lontong opor.
Meski namanya membuat salah fokus, tradisi kuliner ini ternyata sudah mengakar di Kampung Tanjungsari, Pedurungan Tengah, Semarang sejak puluhan tahun lalu atau sekitar tahun 1950.
Uniknya, tradisi kupat ini hanya ada sekali dalam setahun di Kota Semarang. Lebih tepatnya pada hari H+7 Lebaran atau Idul Fitri.
Dalam perkembangannya, untuk THR anak-anak, beberapa orang juga kerap menyelipkan uang ke dalam Ketupat Jembut ini. Ketupat ini pun dibagikan ke anak-anak dan mereka akan berebut untuk mendapatkannya.
Tradisi menyisipkan uang dalam Kupat Jembut ini dimulai sekitar sejak tahun 2000. Bukan cuma untuk memeriahkan perayaan, tapi pemberian uang ini juga dimaknai sebagai sedekah dan ungkapan syukur atas rahmat Allah SWT sekaligus untuk pelengkap ibadah puasa.
Ketupat tersebut dibagikan untuk orang dewasa dan anak-anak. Uniknya ada juga warga yang mengisi ketupat dengan uang receh. Anak-anak yang berebut pun gembira dan saling bersaing mendapatkan ketupat serta uang terbanyak.
Memang banyak versi penyebutan nama kupat tersebut. Namun, karena kampung Tanjungsari Pedurungan Tengah ini lebih lebih religius, lebih nyaman menyebut Kupat Tauge daripada Kupat Jembut. (red1)



