Pada Februari 2023 ini, menurut dr. Bambang, pemerintah melalui Kemenkes telah mengeluarkan tarif baru, sehingga operasi telah bisa dilaksanakan dengan menggunakan BPJS, meski tidak ditanggung secara keseluruhan pembiayaannya.
Sementara di Jambi sendiri, pembiayaan ditanggung secara keseluruhan oleh BPJS dan Pemprov Jambi. Jadi tidak ada tambahan biaya yang nantinya akan dikeluarkan lagi oleh pasien.
Operasi Coiling
Coiling sendiri, adalah operasi kelainan pada syaraf otak, yang dilakukan tanpa tindakan pembedahan, melainkan dengan tindakan memasukkan coil melalui akses pembuluh darah ke lokasi target, sehingga darah tidak lagi masuk ke dalam kantong aneurisma yang pecah tersebut. Dengan tindakan ini, diharapkan tidak akan kembali mengalami pecah pembuluh darah.
Operasi ini sebenarnya sudah lama dilakukan di Indonesia. Namun terkendala dan belum banyak dilakukan oleh banyak penderita stroke dan RS di Indonesia, Karena besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan tersebut.
Coiling Gratis untuk Masyarakat Jambi, RS Mattaher Pilot Project Wakil Direktur Pelayanan Dr. Anton Trihartanto, SpB., FINACS., menyatakan saat ini RS Raden Mattaher menyatakan mampu melakukan tindakan operasi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat penderita stroke tersebut.
Persoalan biaya pun tidak lagi menjadi persoalan, karena Pemerintahan Provinsi Jambi telah menyanggupi untuk membantu pembiayaan operasi pasien-pasien tersebut dengan kucuran dana dari Dumisake Pemprov Jambi.
Guna meningkatkan pelayanan, RS Mattaher memberikan operasi coiling gratis bagi masyarakat Jambi. Selain itu, menurut Anton, BPJS juga memberikan kesepakatan untuk menutupi sebagian pembiayaan untuk operasi yang dilakukan.
“Jadi masyarakat penderita stroke yang menderita kelainan syaraf, tidak perlu takut melakukan Coiling, dengan alasan pembiayaan,” ujar Dr. Anton.
Cost Sharing dari pembiayaan ini, menurut dr. Anton, akan diatur melalui regulasi khusus. Dan regulasi dari BPJS pun telah disusun sedemikian rupa.
“Yang terpenting bukan untung rugi, namun bagaimana pelayanan terbaik bisa diberikan pada masyarakat, gratis,” pungkasnya.
Jambi, menurut Anton, merupakan Pilot Project, karena termasuk salah satu dari dua RS yang memiliki pelayanan dan mampu melakukan operasi Coiling di wilayah Sumatera. RS lainnya yang memiliki pelayanan yang sama, adalah Aceh.
Pelayanan ini pun terbuka dilakukan bukan hanya bagi masyarakat di Provinsi Jambi. Menurut Anton, seluruh pasien di wilayah Sumatera, bisa memanfaatkan pelayanan tersebut, tanpa harus dirujuk lagi ke Ibu kota atau ke RS di luar negeri, seperti selama ini.
Aneurisma otak merupakan kondisi dimana dinding pembuluh darah otak melebar atau menonjol (ballooning) akibat lemahnya dinding pembuluh darah tersebut. Jika aneurisma ini pecah dapat mengakibatkan kondisi fatal yaitu perdarahan otak (subarachnoid) dan kerusakan otak. Pecahnya aneurisma ini diperkirakan dialami oleh 1 orang setiap 18 menit.
Aneurisma otak dapat terjadi pada siapa saja, dan umumnya sebelum pecah aneurisma tidak bergejala, sehingga dianjurkan untuk melakukan brain check- up secara rutin. Beberapa orang terkenal pernah mengalami pecah aneurisma otak diantaranya, Sharon Stone, Emilia Clarke (Game of Throne), Dr. Dre, Neil Young, dan Bondan Winarno.
Dampaknya pun bisa dibilang tidak ringan. Aneurisma memang tidak selalu berujung pada kematian. Namun kualitas hidup penderitanya juga menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga. Kecacatan, perawatan, tenaga, dan biaya besar menjadi faktor penting yang perlu dipahami oleh penderita aneurisma otak.
Itu sebabnya, pada tahun 2021 ini, Brain Aneurysm Awareness Month yang jatuh setiap bulan September setiap tahunnya, mengangkat tema ‘Raising Awareness, Supporting Survivors, Saving Lives’.
Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON), saat ini menangani kurang lebih 100 kasus aneurisma otak setiap tahunnya. Penanganan kasus aneurisma otak ini membutuhkan kolaborasi multidisiplin melibatkan dokter bedah saraf, neurointervensionist, neurologist, intensivist, dan lain sebagainya. Disamping itu diperlukan berbagai peralatan dan fasilitas penunjang yang memadai dan mutakhir agar kita dapat menangani kasus aneurisma otak dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik.
Penanganan aneurisma dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain operasi bedah mikro (Clipping Aneurism) atau dengan teknik minimal invasif endovaskular (Coiling Aneurism). Untuk mengevaluasi secara detail kelainan pembuluh darah otak ini, seringkali kita membutuhkan pemeriksaan DSA (Digital Subtraction Angiography), yang hasilnya dapat membantu menentukan jenis terapi terbaik untuk menangani kasus aneurisma ini.
Teknologi minimal invasif (endovaskular) untuk tatalaksana aneurisma ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Salah satu perkembangan terkini yaitu pemasangan Cerebral Flow Diverter untuk pengobatan aneurisma yang angka keberhasilannya sangat tinggi (hingga 95%). Metode ini sudah mulai diterapkan di rumah sakit PON dalam beberapa tahun ke belakang.
Keunggulan teknologi ini adalah: Prosedur relatif cepat, Pasca-tindakan tidak perlu perawatan ICU, Mengurangi lamanya rawat inap, Lebih nyaman untuk pasien, Tidak ada luka sayatan. (rud/rls)


