KORANPELITA.CO – Presiden RI ke 7, Joko Widodo tengah menjadi magnet utama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk menciptakan kandang gajah, khususnya di Provinsi Jawa Tengah. Namun berbeda pandangan oleh Direktur eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie, dirinya menilai bahwa Joko Widodo tidak memiliki kemapuan dan daya tarik seperti era 2014 – 2024 lalu dalam kancah perpolitikan di Indonesia khususnya di masa mendatang.
“Saya pikir nama Jokowi tak mampu mendongkrak suara PSI, padahal partai ini sangat getol dan optimis bakal tembus 5 besar tapi bagaikan menjaring angin,” kata Jerry melalui sambungan selulernya, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Sebelumnya diketahui bahwa partai gajah ini sudah disuntik dengan adanya pentolan Partai Nasdem Ahmad Ali dam Bestarus sepertinya masih tidak mampu menaikan branding dan elektabilitas partai ini.
“Perkiraan saya masih sulit untuk PSI, walaupun sidah ada Ahmad Ali dan Bestarus, apalagi Jokowi gencar pencitraan bagi-bagi sembako tapi hanya nihil, tetap tak bisa naikkan elektabilitas partai ini,” tambahnya.
“PSI rontok dari 3,5 persen pada Pileg 2024 lalu kini hanya dikisaran 1 persen,” bebernya.
“Jadi era Jokowi sudah habis. Dia mau guling-guling dan cawe-cawe tapi publik sudah cerdas membandingkan mana yang tulus dan yang bulus serta fulus. Gaya dan metode politik pencitraan sudah tak laku lagi,” pungkasnya.
“Masuknya Jokowi di PSI bukan menaikkan elektabilitas partai tapi menjatuhkan dan merontokan partai ini sendiri. Mending istirahat aja dimasa pensiun,” pintanya.
Survei terbaru Poltracking memberikan angka 1,5 persen bagi PSI, jadi ini peringatan bahwa harus ada reformasi yakni Ketum Kaesang harus diganti, kalau tidak menurut Jerry PSI hanya mampu meraih 1 persen suara Pileg 2029 mendatang.
Masih kata Jerry, dia menuturkan bahwa Pemilu 2029 mendatang akan jadi kiamat bagi PSI selain tak lolos parlemen, partai ini akan bubar.
“Pada dasarnya partai ini sejak awal sudah salah kaprah. Kalau dia mempertahankan partai anak muda dan pemimpinnya mayoritas anak muda, tak memasukan Jokowi, tetap eksis memperjuangkan kelompok marjinal dan juga tetap kreatif, bisa saja mereka meraih 5 sampai 6 persen suara,” tandasnya. (er)



