
KORANPELITA.CO — Ketua DPRD Kabupaten Cianjur Ir. Hj. Metty Triantika, M.T., mendorong keberlanjutan kegiatan seni rupa sebagai bagian dari upaya memajukan kehidupan kebudayaan dan membangun kota yang memiliki karakter.
Hal tersebut disampaikan Metty saat menghadiri pembukaan pameran tunggal Widhi NRS bertajuk “Fragmensia #1: Lika-Liku Laku” di Art Space by DKC, Gedung Dewan Kesenian Cianjur, Jalan Slamet, Bojongherang, Sabtu (7/11/2026).
Metty mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang menghadirkan 25 karya figuratif dalam medium dua dan tiga dimensi tersebut. Ia berharap kegiatan serupa terus berlangsung sehingga masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk menikmati karya para seniman Cianjur.
Dalam kesempatan itu, Metty mengaku sebagai penikmat seni, termasuk seni rupa. Ia menikmati karya-karya Widhi dengan didampingi kurator Novandy Fiardillah, yang akrab disapa Novan.
Novan memberikan penjelasan mengenai gagasan, simbol, serta perjalanan kreatif Widhi yang tercermin dalam karya-karya yang dipamerkan.
Metty yang berlatar belakang pendidikan planologi mengaitkan keberlanjutan kegiatan berkesenian dengan kemajuan kota. Kehadiran ruang seni memberikan tempat bagi kreativitas dan interaksi masyarakat yang turut membentuk identitas serta kualitas kehidupan sebuah kota.
Karena itu, kegiatan berkesenian diharapkan terus tumbuh seiring dengan pembangunan Cianjur, dengan memberikan ruang bagi seniman untuk berkarya dan masyarakat untuk mengapresiasinya.
Memperkuat Ekosistem Seni Rupa
Ketua Umum Dewan Kesenian Cianjur (DKC) Benben Bella, dalam surat undangan kepada Metty, menjelaskan bahwa penyelenggaraan pameran merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni rupa, memperluas jaringan industri kreatif, dan menyediakan ruang yang representatif bagi karya para seniman.
Direktur Art Space by DKC Alexander Chris dan DKC sengaja mengundang Metty untuk menghadiri pembukaan pameran tersebut. Chris menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Metty terhadap perkembangan dan kemajuan seni budaya terutama seni rupa di Cianjur.
Pameran tersebut merupakan penyelenggaraan pameran seni rupa keempat dalam program Art Space by DKC, sekaligus pameran tunggal perdana Widhi setelah lebih dari satu setengah dekade berkarya.
Judul Fragmensia merupakan akronim dari “Fragmen Manusia”. Melalui seri ini, Widhi memperlihatkan peralihan dari karya abstrak yang ekspresif menuju penggambaran figur manusia dengan simbolisme yang kuat.
Bagi Widhi, perubahan tersebut tidak sebatas persoalan teknik melukis, tetapi juga menjadi proses belajar kembali memahami manusia dan dinamika batinnya.
“Hal yang saya garis bawahi dalam pameran ini adalah bagaimana cara kita merespons dinamika psikologis yang ada dalam pikiran kita selaku manusia,” kata Widhi.
Novandy menjelaskan, pameran tersebut mengangkat lima suasana batin, yakni kesedihan, penyangkalan, kemarahan, ketenangan, dan penerimaan. Gagasan penerimaan juga diwujudkan melalui penggunaan warna biru pada ruang pamer untuk menghadirkan kesan lega.
Pembukaan pameran turut dihadiri sejumlah tokoh seni budaya, di antaranya Tatang Setiadi atau Abah Tatang, maestro seni tradisi Sunda asal Cianjur yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 kategori Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbud Ristek.
Hadir pula Prof. Dr. Ir. H. Ika Djatnika, ilmuwan di bidang pertanian yang memiliki kecintaan terhadap kebudayaan Sunda, serta akademisi Universitas Maranatha Bandung Dr. Ismet Zainal Effendi yang menyampaikan pidato pembuka.
Tokoh lainnya yakni Neng Wina Resky Agustina, dosen Transformasi Budaya Sunda Universitas Suryakancana Cianjur sekaligus Ketua Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia, dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cianjur Saep Lukman.
Kegiatan tersebut juga dihadiri para guru seni dan seni rupa, mahasiswa, tokoh kebudayaan, serta perupa Cianjur.
Dalam pidato pembukaannya, Ismet mengingatkan pentingnya apresiasi seni untuk menumbuhkan kepekaan masyarakat terhadap nilai estetis di sekitarnya. Menurut dia, kepekaan tersebut diperlukan agar pembangunan tetap memiliki hubungan dengan cita rasa dan identitas kebudayaan Cianjur.
“Orang Cianjur juga sejatinya memiliki tradisi estetis yang luhur, khususnya digambarkan lewat pilar budaya kita,” ujar Ismet.
Pameran “Fragmensia #1: Lika-Liku Laku” berlangsung hingga Desember 2026. Rangkaian kegiatannya meliputi klinik pendampingan, bincang seniman, serta lokakarya pewarnaan dan pelukisan di atas keramik hasil kolaborasi Widhi dengan Pancaniti Keramik (man s.)


