
Bekasi, Koranpelita.co — Kedekatan dengan masyarakat menjadi salah satu warna dalam langkah Tuti Elawati sebagai calon Kepala Desa Lambangsari. Di tengah dinamika menuju Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), Tuti dikenal aktif hadir dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Kehadirannya tidak hanya terlihat ketika ada agenda politik. Tuti juga menyempatkan diri mengunjungi warga yang sedang sakit, melayat ketika ada masyarakat yang berduka, hingga menghadiri hajatan warga.

Bagi Tuti, membangun hubungan dengan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui pertemuan formal. Kedekatan justru perlu dibangun melalui interaksi langsung dan kepedulian terhadap kehidupan warga sehari-hari.
“Bagi saya, silaturahmi dengan masyarakat harus terus dijaga. Ketika ada warga sakit, kita jenguk. Ketika ada yang berduka, kita hadir. Ketika ada warga yang punya hajat, kita ikut mendoakan,” ujar Tuti.
Ia menilai, seorang calon pemimpin desa harus memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Dengan hadir di tengah warga, berbagai persoalan dan kebutuhan masyarakat dapat diketahui tanpa harus menunggu laporan secara formal.
Aktivitas Tuti di tengah masyarakat juga terlihat melalui keterlibatannya dalam kegiatan pengajian ibu-ibu dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi Tuti untuk membangun komunikasi sekaligus mendengarkan berbagai aspirasi yang muncul dari masyarakat.
Menurut Tuti, perhatian terhadap masyarakat tidak boleh berhenti pada momentum Pilkades. Kepedulian harus menjadi bagian dari hubungan sosial yang terus terjaga, siapa pun nantinya yang memperoleh amanah sebagai kepala desa.
“Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap dekat dengan masyarakat dan mengetahui apa yang mereka rasakan. Jangan hanya datang ketika membutuhkan dukungan,” katanya.
Ia juga menaruh perhatian terhadap warga yang tengah menghadapi kesulitan. Menurutnya, persoalan masyarakat di tingkat desa sangat beragam, mulai dari kebutuhan pelayanan, kondisi sosial, hingga persoalan ekonomi keluarga.
Karena itu, komunikasi langsung dengan warga dinilai penting untuk mengetahui persoalan tersebut sekaligus menjadi bahan dalam merumuskan arah pembangunan desa.
Kedekatan dengan masyarakat, menurut Tuti, tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Jika kelak mendapatkan amanah memimpin Desa Lambangsari, perhatian terhadap warga harus diterjemahkan melalui pelayanan publik dan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Ia ingin pembangunan desa disusun dengan mendengarkan aspirasi warga, termasuk kelompok perempuan, pemuda, pelaku usaha, serta masyarakat di tingkat lingkungan.
“Kalau kita sering bertemu masyarakat, kita akan lebih memahami apa yang mereka butuhkan. Aspirasi itu yang nantinya harus menjadi perhatian dalam menentukan program pembangunan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Tuti membangun komunikasi dengan masyarakat menjelang Pilkades Lambangsari. Namun, ia menegaskan bahwa perbedaan pilihan politik tidak seharusnya memutus hubungan persaudaraan antarwarga.
Menurutnya, Pilkades harus menjadi momentum memilih pemimpin sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.
“Pilihan boleh berbeda. Tetapi kita semua tetap warga Lambangsari. Persaudaraan dan kebersamaan harus tetap dijaga,” katanya.
Aktivitas Tuti yang terus menyambangi masyarakat membuat dinamika Pilkades Lambangsari semakin menarik. Bagi warga, kehadiran calon di tengah kehidupan sehari-hari menjadi salah satu hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam melihat karakter dan kepedulian seorang calon pemimpin.
Pada akhirnya, tantangan bagi setiap calon bukan sekadar memperoleh dukungan, melainkan membuktikan bahwa kedekatan dengan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi komitmen dan kerja nyata.
Di titik inilah masyarakat Lambangsari memiliki ruang untuk menilai siapa yang paling memahami persoalan mereka dan siapa yang memiliki gagasan paling realistis untuk membawa desa ke arah yang lebih baik.(Dodo).


