Masuk Musim Kering, Dinpertan Demak : Lakukan Penggelontoran Air Selamatkan Pertanian

KORANPELITA.CO  — Musim kemarau mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Sejumlah lahan persawahan mengalami kekurangan air, bahkan sebagian wilayah menghadapi ancaman intrusi air laut yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman padi.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak, Agus Herawan, mengatakan berdasarkan laporan pemerintah desa dan hasil verifikasi petugas penyuluh, kekurangan air terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Bonang, Karangtengah, Wonosalam, Kebonagung, Guntur, dan Demak.

Luas lahan yang terdampak berdasarkan pendataan sementara mencapai sekitar 1.104 hektare. Kondisi tersebut membuat tanaman padi di sejumlah wilayah berisiko mengalami puso apabila pasokan air tidak segera dipenuhi.

“Beberapa desa mengalami kekurangan air dan intrusi air laut mulai masuk ke sungai. Kondisi ini membuat pertanaman padi terancam puso,” kata Agus, Selasa, (18/8/2026).

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Pertanian dan Pangan Demak berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Pemkab meminta tambahan debit air sungai sekaligus pengawalan pemanfaatan air oleh Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A).

BACA JUGA:  PHK Mengancam Sejumlah Daerah, Demak Klaim Kondisi Industri Masih Stabil

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Demak, Heri Wuryanta, mengatakan penanganan yang dilakukan secara cepat mulai berdampak terhadap luas lahan yang mengalami kekurangan air.

Menurut Heri, sebelumnya luas lahan terdampak sempat mencapai lebih dari 1.104 hektare. Setelah dilakukan penggelontoran air, jumlah tersebut berangsur turun menjadi sekitar 352 hektare.

“Tanaman masih membutuhkan air, sehingga kami koordinasi dengan Balai Besar untuk penggelontoran. Laporan dari desa-desa juga terus kami tindak lanjuti,” ujarnya.

Heri mengungkapkan kondisi di sejumlah wilayah kini mulai membaik. Kecamatan Wonosalam, Kebonagung, dan Demak dinilai relatif aman dari ancaman puso setelah mendapatkan penanganan pasokan air.

Sementara itu, Kecamatan Guntur, Karangtengah, dan Bonang masih menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian. Pemerintah terus melakukan penggelontoran air untuk menjaga tanaman padi yang masih membutuhkan pasokan air.

“Kita terus bergerak cepat bersama Balai Besar. Mudah-mudahan tanaman bisa diselamatkan dan tidak ada yang sampai puso,” kata Heri.

BACA JUGA:  Kafilah MTQ KORPRI Banten Bertolak ke Sulsel, Gubernur Banten Minta Prestasi Terbaik

Persoalan air di Demak memiliki karakter yang cukup kompleks. Sejumlah wilayah yang kini kekurangan air sebelumnya justru mengalami persoalan kelebihan air dan genangan.

Kondisi tersebut membuat petani hanya dapat melakukan penanaman ketika air mulai surut. Namun, setelah tanaman ditanam, kondisi berubah menjadi kering sehingga kebutuhan air justru meningkat.

“Biasanya wilayah itu terendam terus. Ketika sekarang sudah bisa tanam karena kering, ternyata kekeringannya luar biasa sehingga airnya kurang,” jelasnya.

Selain mengandalkan penggelontoran air, Dinas Pertanian dan Pangan Demak juga mengembangkan inovasi padi apung sebagai alternatif bagi lahan yang kerap mengalami genangan.

Uji coba telah dilakukan sejak 2025 di Desa Tambakroto. Dalam skala demplot, hasil panen mencapai sekitar 3,9 ton per hektare. Namun, produktivitas tersebut masih berpotensi meningkat karena tanaman sempat terserang hama tikus dan burung.

“Kalau tidak terserang hama, hasilnya masih bisa lebih tinggi. Ini baru tahap percobaan dan terus kita kembangkan,” ujar Heri.

BACA JUGA:  Ekonomi Indonesia: Di luar (The Others) Sosialisme dan Kapitalisme

Pengembangan padi apung akan kembali dilakukan pada 2026 dengan fokus pada lahan yang tergenang dan memiliki air tawar. Pemerintah daerah juga menyiapkan pengembangan lebih lanjut pada lahan dengan kondisi payau.

Sementara untuk musim tanam ketiga, petani di wilayah yang memiliki keterbatasan air diarahkan mempertimbangkan tanaman yang lebih sesuai dengan kondisi kering, salah satunya kacang hijau.

Pemkab Demak berharap kombinasi penanganan irigasi dan inovasi budidaya tersebut dapat menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat perubahan kondisi air di lapangan. (Nungki)