Tiga Gempa Besar Guncang Dunia dalam Kurang dari 12 Jam, Pakar: Alarm bagi Indonesia

KORANPELITA.CO – Tiga gempa bumi berkekuatan besar mengguncang tiga kawasan berbeda di dunia hanya dalam rentang waktu kurang dari 12 jam. Dimulai dari California Utara, Amerika Serikat, kemudian Venezuela, hingga Jepang, rangkaian aktivitas seismik tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman gempa dapat terjadi kapan saja, termasuk di Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik.

Rangkaian gempa diawali di California Utara pada Rabu (24/6) pukul 22.10 WIB. Gempa bermagnitudo 5,6 berpusat di darat sekitar 11 kilometer di utara Redwood Valley dengan kedalaman 8,9 kilometer. Berdasarkan karakteristiknya, gempa dipicu oleh aktivitas sesar lokal dan menimbulkan guncangan hingga intensitas VI–VII MMI. Warga dilaporkan berhamburan keluar rumah, sementara sejumlah bangunan yang tidak tahan gempa mengalami kerusakan ringan.

Beberapa jam berselang, Kamis (25/6) pukul 05.05 WIB, gempa yang jauh lebih kuat mengguncang Venezuela. Gempa bermagnitudo 7,5 berpusat sekitar 23 kilometer di tenggara Yumare pada kedalaman 10 kilometer akibat mekanisme sesar geser. Guncangan diperkirakan mencapai intensitas VI–IX MMI dan memicu kepanikan di berbagai wilayah, termasuk Caracas. Di Bandara Internasional Caracas, calon penumpang dilaporkan berlarian menyelamatkan diri ketika sebagian material langit-langit terminal runtuh akibat kuatnya getaran.

BACA JUGA:  Bapenda Bekasi Percepat Optimalisasi Pajak

Hanya sekitar 25 menit kemudian, Jepang juga diguncang gempa bermagnitudo 6,9 pada pukul 05.30 WIB. Episenter berada di laut sekitar 35 kilometer timur-timur laut Kuji dengan kedalaman 51,7 kilometer. Gempa dipicu aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme sesar naik. Guncangan mencapai intensitas VI MMI, menyebabkan warga kesulitan berdiri dan sejumlah perabot rumah tangga berjatuhan. Meski demikian, gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Dr Daryono.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mengungkapkan bahwa gempa di Venezuela merupakan fenomena doublet earthquake, yakni dua gempa besar yang terjadi hampir bersamaan. Gempa utama bermagnitudo 7,5 didahului gempa bermagnitudo 7,2 dengan selang waktu sekitar 40 detik.

BACA JUGA:  Jaksa Agung kembali Larang Keras Jajarannya Pertontonkan Hedonisme di Media Sosial

“Rangkaian dua gempa besar tersebut melumpuhkan wilayah terdampak, merobohkan rumah-rumah warga, serta merusak sejumlah bangunan di ibu kota Caracas,” ujar Daryono kepada redaksi koranpelita.co melalui sambungan telepon, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, rentetan gempa di tiga negara dalam waktu berdekatan menjadi pengingat bahwa Indonesia harus terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana.

“Bumi sangat dinamis pagi ini Venezuela M7.5, Jepang M6.9 dan California Utara M5.6 semuanya mengalami gempa kuat,” pintanya.

“Rangkaian gempa di berbagai belahan dunia ini menjadi alarm bagi masyarakat Indonesia yang juga hidup di kawasan Cincin Api Pasifik. Gempa bumi tidak pernah membunuh, tetapi bangunan yang runtuh menjadi penyebab utama jatuhnya korban jiwa,” tegasnya.

BACA JUGA:  Pemkot Tangerang Gelar Job Fair tawarkan 15.000  Lowongan Kerja

Daryono menambahkan, penguatan standar bangunan tahan gempa harus menjadi prioritas, terutama pada fasilitas publik dan kawasan permukiman. Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan kesiapsiagaan dengan memahami prosedur penyelamatan saat gempa, menghindari kepanikan saat evakuasi, serta menyiapkan tas siaga bencana di rumah.

“Mitigasi yang baik akan menentukan besarnya risiko yang dihadapi masyarakat ketika gempa terjadi. Karena itu, edukasi kebencanaan harus terus diperkuat dan menjadi budaya di tengah masyarakat,” pungkasnya. (red)