KORANPELITA.CO – Alam tidak pernah memberikan negosiasi ketika ia mulai bicara. Dibalik kemegahan puncaknya yang menembus awan, gunung api menyimpan kekuatan purba yang mampu melumatkan kehidupan dalam hitungan detik. Namun sayangnya, peringatan seringkali dianggap hanya sebagai deretan angka dan prosedur administratif, hingga akhirnya maut datang menjemput dalam sunyi yang mencekam.
Tragedi di Gunung Dukono pada Mei 2026 menjadi nisan pengingat yang pahit bagi kita semua. Ketika warga negara asing dan pendaki lokal tercatat dalam sejarah kelam korban erupsi, kita dipaksa melihat kenyataan bahwa zona bahaya bukan sekadar garis di atas peta. Ia adalah batas antara napas dan binasa. Jarak 20 hingga 30 meter dari bibir kawah bukan lagi tempat untuk berdecak kagum, melainkan tempat dimana maut berdiri tepat di depan mata.
Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono mengatakan, mengabaikan larangan pendakian demi konten media sosial atau kepuasan adrenalin adalah bentuk kenekatan yang paling fatal. Saat kolom abu membubung hingga 10.000 meter dan lava pijar mulai dimuntahkan, tidak ada teknologi atau keberanian yang sanggup menyelamatkan manusia dari aliran piroklastik yang bergerak lebih cepat dari teriakan minta tolong.
Sejarah tragedi erupsi dari Gunung Pelée (1902: 29.000 orang tewas), Gunung Nevado del Ruiz (1985: 23.000 orang tewas), Gn. Ontake (2014: 50 orang tewas), Gn. Merapi (2010: 341 orang tewas), Gn. Marapi (2023): 23 orang tewas) telah mengajarkan bahwa gunung tidak butuh izin kita untuk meletus.
“Faktor penyebab korban jiwa umumnya awan panas (pyroclastic cloud) dan lontaran material panas, lahar, penolakan evakuasi, pelanggaran zona bahaya sering dilakukan demi aktivitas wisata/konten influencer seperti pada kasus di Gunung Dukono atau Gunung Marapi,” kata Daryono, Jakarta, Minggu (10/5/2026).
Kepatuhan terhadap radius bahaya Dukono, seperti zona 4 kilometer dari kawah aktif sejak 11 Desember 2024 yang ditetapkan PVMBG, adalah satu-satunya tameng yang kita miliki. Menembus jalur yang telah ditutup secara resmi sejak April 2026, bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga mempertaruhkan nyawa tim SAR dan relawan yang harus bertaruh nyawa di bawah hujan abu dan ancaman erupsi susulan.
“Jangan biarkan ambisi membutakan logika. Gunung akan selalu ada di sana, tetapi nyawa tidak memiliki cadangan,” pungkasnya.
“Hormati batas yang telah ditentukan oleh alam dan otoritas. Sebab, saat magma mulai menyentuh udara, penyesalan selalu datang terlambat di tengah debu yang menimbun segala impian. Dan jangan lupa untuk selalu mentaati zona bahaya, karena keselamatan adalah puncak tertinggi yang sebenarnya,” tutupnya. (red/*)



