Siap Untuk Selamat : Dari Ingatan Bencana Menuju Indonesia Tangguh

Daryono.

KORANPELITA.CO – Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 kembali mengingatkan kita pada satu hal mendasar: keselamatan bukan kebetulan, melainkan hasil dari kesiapan. Di negeri yang berada di cincin api Pasifik ini, ancaman bencana adalah keniscayaan. Namun, menjadi korban bukanlah takdir yang tak bisa dihindari. Di sinilah makna “siap untuk selamat” menjadi lebih dari sekadar slogan—ia adalah sikap hidup.

“Sejarah panjang bencana di Indonesia seharusnya menjadi guru terbaik. Tsunami Aceh 2004 membuka mata dunia akan dahsyatnya kekuatan alam. Gempa dan tsunami Palu 2018, erupsi Gunung Merapi, hingga rentetan gempa di Lombok adalah pengingat bahwa risiko selalu hadir di sekitar kita,” ucap Dr. Daryono, pegiat mitigasi bencana, melalui sambungan teleponnya, Jakarta, Minggu (26/4/2026).

Sambung Daryono, bahkan dalam beberapa waktu terakhir, kita masih menyaksikan banjir yang melanda berbagai kota, tanah longsor di daerah perbukitan, serta kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap musim kemarau. Semua itu menunjukkan bahwa ancaman tidak pernah benar-benar pergi.

BACA JUGA:  Empat Unit Damkar Atasi Kebakaran Ponpes Tambun Selatan

Pada dasarnya persoalan bukan hanya pada bencananya, melainkan pada kesiapan menghadapinya. “Budaya sadar bencana masih sering kalah oleh kebiasaan abai. Banyak yang belum mengetahui jalur evakuasi, belum memahami tanda-tanda bahaya, atau bahkan menganggap remeh peringatan dini. Padahal, detik-detik awal dalam situasi darurat sering kali menjadi penentu antara selamat dan tidak,” paparnya.

Karena itu, HKB 2026 harus menjadi momentum untuk menanamkan budaya sadar bencana secara lebih luas dan mendalam. Edukasi tidak cukup hanya dilakukan di ruang kelas atau saat simulasi tahunan. Budaya tersebut harus hidup dalam keseharian—di rumah, di tempat kerja, hingga di ruang publik. Kesadaran ini mencakup hal sederhana: menyiapkan tas siaga, memahami risiko lingkungan sekitar, hingga melatih refleks penyelamatan diri.

BACA JUGA:  HKB 2026: BNPB Berikan 2.257 Bibit Pohon, Tingkatkan Mitigasi Berbasis Vegetasi

Masih kata pria asal Semarang ini, lebih jauh lagi, kesiapsiagaan adalah kerja kolektif. Kita tidak bisa mengandalkan individu semata. Bersatu dalam siaga menjadi kunci dalam menghadapi situasi darurat. Pemerintah perlu memastikan sistem peringatan dini berjalan efektif, dunia pendidikan harus aktif menanamkan literasi kebencanaan, dan masyarakat perlu membangun solidaritas yang kuat. Komunitas lokal, relawan, hingga organisasi kemanusiaan memiliki peran penting dalam menjembatani informasi dan aksi di lapangan.

Ketangguhan menghadapi bencana juga berarti kemampuan untuk pulih dan bangkit. Banyak daerah di Indonesia telah menunjukkan bahwa dari reruntuhan, harapan bisa tumbuh kembali. Namun, proses pemulihan akan jauh lebih cepat dan kuat jika didukung oleh kesiapan sejak awal. “Mitigasi yang baik, tata ruang yang bijak, serta pembangunan yang memperhatikan aspek risiko bencana adalah investasi jangka panjang untuk masa depan,” katanya.

BACA JUGA:  HKB 2026: BNPB Berikan 2.257 Bibit Pohon, Tingkatkan Mitigasi Berbasis Vegetasi

Pada akhirnya, HKB 2026 bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah panggilan untuk berubah. Dari yang semula reaktif menjadi proaktif, dari yang abai menjadi peduli, dari yang sendiri-sendiri menjadi bersatu dalam siaga. Indonesia yang tangguh bukanlah mimpi, tetapi tujuan yang bisa dicapai jika setiap individu mengambil peran.

“Karena di tengah segala ketidakpastian, satu hal yang bisa kita pastikan adalah kesiapan kita sendiri. Dan dari situlah, keselamatan bermula,” tandasnya. (red/*)