‎Melawan Lupa : Tsunami Pulau Simuk 9 Maret 1861

Daryono, Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

KORANPELITA.CO – Sejarah mencatat bahwa pada 9 Maret 1861 wilayah barat Sumatera diguncang gempa sangat kuat yang kemudian memicu tsunami di sejumlah pulau di sekitarnya.

‎Salah satu lokasi yang terdampak adalah Pulau Simuk di Kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.

‎Pulau Simuk merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Batu, Nias Selatan, menghadap ke perairan laut bebas di pantai barat Sumatera. Pulau ini terletak paling barat dan sering menghadapi dinamika laut yang ekstrem. Pulau ini sering mengalami krisis pangan ketika cuaca buruk (gelombang tinggi) karena menghalangi kapal logistik bersandar, menyebabkan kelangkaan bahan pokok.

‎Catatan sejarah kolonial menyebutkan bahwa setelah guncangan kuat terjadi, gelombang laut naik dan menggenangi wilayah pesisir pulau tersebut.

‎Gempa Megathrust

‎Peristiwa ini berkaitan dengan gempa besar yang dikenal sebagai 1861 Sumatera Megathrust Earthquake, yang terjadi pada zona subduksi Sunda Megathrust di lepas pantai barat Sumatera. Gempa ini diperkirakan memiliki magnitudo besar menjadikannya salah satu gempa bumi yang sangat mengguncang dalam sejarah kegempaan Indonesia pada abad ke-19. Selain menyebabkan guncangan kuat di daratan Sumatera, gempa ini juga memicu tsunami yang dirasakan di sejumlah pulau di sekitarnya.

BACA JUGA:  Guru Dibully Murid Diskorsing 19 Hari : Potensi Siswa Tidak Naik Kelas

‎”Gempa ini diperkirakan memiliki magnitudo sekitar M8,5 menjadikannya salah satu gempa besar dalam sejarah kegempaan di Indonesi. Selain guncangan yang sangat kuat juga memicu gelombang tsunami,” kata Daryono, S.Si., M.Si., Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), menjawab pertanyaan koranpelita.co terkait sejarah gempa tahun 1861 di Kepulauan Simuk, melalui sambungan teleponnya, Jakarta, Senin (9/3/2026).

‎Sambung Daryono, menurut Soloviev, S. L., dan Go, Ch. N. (1974), yang merupakan salah satu referensi utama dalam sejarah tsunami di Indonesia, sebelum terjadi tsunami, di Pulau Simuk terdapat sebanyak 120 rumah dan sekitar 1.000 orang yang tinggal di pulau tersebut. Tsunami menyebabkan sebanyak 96 rumah hancur dan sekitar 3/4 dari penduduknya meninggal.

BACA JUGA:  IKA-PMII Demak Resmikan Pembangunan Harokah Center, Wujud Kemandirian Alumni

‎”Ini penting untuk diingat karena menunjukkan bahwa kawasan kepulauan di barat Sumatera telah lama berada dalam rantai bahaya gempa megathrust dan tsunami. Peristiwa 1861 menjadi pengingat bahwa ancaman tersebut bukan sekadar potensi masa depan, melainkan bagian dari sejarah geologi wilayah ini,” katanya lagi.

‎Edukasi Mitigasi

‎Belajar dari sejarah tersebut, masyarakat pesisir perlu memahami tanda-tanda alam ketika gempa kuat terjadi.

‎”Jika guncangan kuat dirasakan di wilayah pantai atau pulau kecil, maka langkah paling aman adalah segera menjauhi pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu peringatan resmi,” ungkapnya.

‎Kesadaran akan sejarah bencana seperti tsunami Pulau Simuk 1861 merupakan bagian penting dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan di wilayah rawan gempa dan tsunami di sepanjang pantai barat Sumatera.

BACA JUGA:  Usai Santap Nasgor MBG, Ratusan Santri dan Warga Demak Diduga Keracunan 

‎Terakhir Daryono menekankan pentingnya edukasi menangani bahaya gempa dan tsunami.

‎”Saya tidak bosan-bosannya untuk mengingatkan bahwa edukasi publik terkait bahaya gempa dan tsunami menjadi sangat penting untuk membangun masyarakat pulau kecil dalam memahami risiko, untuk mampu menyelamatkan diri, dan siap menghadapi gempa besar serta tsunami. (red)