Catatan dari Selatan Filipina : Memahami Gempa Mindanao Kekuatan M6,2 Tadi Sore

Dr Daryono.

KORANPELITA.CO – Hari Senin Sore ini, 15 Juni 2026, tanah Mindanao kembali bergetar kuat. Sebuah gempa dengan magnitudo M6,2 mengguncang wilayah tersebut, memicu ingatan warga akan peristiwa besar M7,8 yang terjadi tepat seminggu sebelumnya, pada 8 Juni 2026.

daryono

Namun, dibalik kekhawatiran yang mungkin muncul, ada fakta geologis penting yang perlu dipahami: gempa sore ini bukanlah “buntut” atau gempa susulan (aftershock) dari gempa besar dan merusak serta memicu tsunami, minggu lalu.

Dua Cerita
Meskipun keduanya terjadi di kawasan yang sama, selatan Filipina yang memang dikenal sebagai zona tektonik aktif, keduanya adalah dua kejadian yang lahir dari “rahim” sumber gempa yang berbeda.

“Bayangkan gempa M7,8 minggu lalu sebagai sebuah guncangan raksasa yang berasal dari Cotabato Trench. Itu adalah peristiwa gempa megathrust, di mana lempeng bumi saling bertubrukan hebat, menciptakan tekanan kompresi yang sangat besar hingga akhirnya patah dan melepaskan energi massif yang destruktif. Selain membangkitkan guncangan dahsyat, deformai dasar laut ini ternyata sanggup mengganggu kolom ar laut dan memicu tsunami di wilayah Laut Sulawesi”, kata Dr Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) kepada redaksi koranpelita.co melalui sambungan teleponnya, Jakarta, Senin (15/6/2026).

BACA JUGA:  Bupati Tangerang Buka Lomba Kicau Mania Nusantara Bupati Cup 2026, Hadiah Utama Mobil Toyota Agya

Masih kata Daryono, gempa M6,2 sore ini menceritakan kisah yang berbeda. Analisis parameter menunjukkan bahwa gempa ini berasal dari Filipina Trench, dalam tubuh lempeng itu sendiri (intra-slab). Alih-alih di antarmuka lempeng, gempa ini terjadi jauh di dalam Lempeng Laut Filipina. Dengan mekanisme deformasi yang disebut oblique thrust, ia berdiri sebagai peristiwa mandiri, bukan sekadar pelengkap dari rangkaian gempa sebelumnya.

Mengapa Penting?
Dalam dunia seismologi, sebuah gempa susulan biasanya terjadi karena adanya redistribusi tegangan di bidang patahan yang sama setelah gempa utama. Namun, karena gempa sore ini memiliki kedalaman dan mekanisme yang berbeda, ia tidak memenuhi syarat sebagai aftershock.

Lantas, mengapa ia terjadi tepat setelah gempa besar? Para ahli melihat ini sebagai bentuk respons tektonik. Sistem di Filipina Selatan saat ini sedang berada dalam kondisi yang sangat kompleks. “Transfer tegangan regional pascagempa besar mungkin telah menyentuh segmen lain yang sebenarnya sudah berada di ambang “kritis” -di mana akumulasi tegangan di sana sudah mencapai batas maksimalnya. Begitu tersentuh, segmen tersebut pun ikut melepaskan energinya”, ungkapnya.

BACA JUGA:  BRI Kuala Tungkal Gandeng PKSS Jaring Talenta Lokal Melalui Walk In Interview

Kabar Baik
Karena sumbernya yang lebih dalam dan magnitudonya yang jauh lebih kecil dibandingkan peristiwa M7,8 minggu lalu, energi yang dilepaskan pun jauh lebih terbatas. Intensitas guncangan yang dirasakan masyarakat pun secara umum tidak sekuat gempa besar sebelumnya.

“Meskipun statusnya sebagai kejadian mandiri, tetaplah waspada dan selalu mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat. Mindanao memang wilayah yang dinamis, namun memahami karakteristik setiap gempa membantu kita melihat situasi dengan lebih tenang dan terukur”, tandasnya. (er/red)

 

Redaktur 1
Latest posts by Redaktur 1 (see all)
BACA JUGA:  Bupati Tangerang Buka Lomba Kicau Mania Nusantara Bupati Cup 2026, Hadiah Utama Mobil Toyota Agya