KORANPELITA.CO – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Pulau Buru, Maluku, pada Selasa sore, 14 Maret 2006 pukul 15.57 waktu setempat. Episenter gempa berada di laut pada koordinat 3,595° Lintang Selatan dan 127,214° Bujur Timur dengan kedalaman sekitar 30 kilometer. Guncangan ini tidak hanya terasa kuat di daratan, tetapi juga memicu gelombang tsunami yang menerjang sejumlah desa pesisir.

Laporan lapangan pada saat itu mencatat gelombang tsunami mencapai sekitar lima meter dan menerjang daratan hingga sekitar 100 meter dari garis pantai. Desa-desa di pesisir Kecamatan Bata Bual menjadi wilayah yang paling terdampak ketika air laut tiba-tiba naik dan menyapu permukiman warga yang sebagian besar berada sangat dekat dengan bibir pantai.
“Kerusakan paling parah terjadi di Desa Pela dengan sedikitnya 116 rumah rusak dan hancur. Di Desa Batu Jungku tercatat 54 rumah rusak, di Waemorat 30 rumah rusak, di Waelata 25 rumah rusak, serta 16 rumah rusak di wilayah Persiapan Waemoli. Selain merusak ratusan rumah penduduk, bencana ini juga merenggut korban jiwa dan memaksa banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dalam waktu singkat,” terang Dr Daryono, S.Si., M.Si., Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menjawab pertanyaan koranpelita.co terkait sejarah Tsunami Pulau Buru 14 Maret 2006, Jakarta, Sabtu (14/3/2026).
Kesaksian warga menggambarkan suasana yang mencekam saat bencana terjadi. Mereka mendengar teriakan dan kepanikan ketika air laut tiba-tiba menggulung permukiman. “Dalam hitungan menit, gelombang menerjang Desa Pela, Batu Jungku, Namlea, serta beberapa desa lain di wilayah pesisir Pulau Buru hingga membuat banyak rumah rata dengan tanah,” kata pria kelahiran Kota Semarang ini.
Lanjut Daryono, ironisnya peristiwa memilukan tersebut nyaris tidak segera diketahui dunia luar. Lokasi yang terpencil serta terbatasnya sarana komunikasi membuat kabar bencana baru sampai ke pusat pemerintahan Provinsi Maluku di Ambon beberapa hari kemudian. Setelah hampir sepekan berlalu, laporan resmi menyebutkan tiga warga meninggal dunia dan satu orang dinyatakan hilang akibat tsunami tersebut.
Bagi warga pesisir Pulau Buru yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, bencana itu meninggalkan luka mendalam. Banyak keluarga kehilangan rumah, harta benda, dan anggota keluarga. Hingga kini, kenangan tentang gelombang laut yang datang tiba-tiba masih membekas kuat di ingatan mereka.
“Peristiwa tsunami Pulau Buru menjadi pengingat bahwa bencana besar dapat terjadi bahkan di wilayah yang jauh dari sorotan. Mengingat kembali tragedi ini penting agar masyarakat tetap waspada terhadap ancaman gempa dan tsunami di wilayah pesisir Indonesia,” tuturnya. (red)



