‎Lawan Lupa dari Kalapanunggal : Gempa Kecil yang Memberi Pelajaran Besar ‎

Salah satu bangunan yang rusak akibat gempa bumi M5.0 di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada 10 Maret 2020 silam.

KORANPELITA.CO – Enam tahun lalu, tepatnya pada Selasa 10 Maret 2020 sore hari pukul 17.18.04 WIB, wilayah Kalapanunggal di Kab. Sukabumi, Jawa Barat, diguncang gempa berkekuatan Magnitudo 5,0. Secara angka, gempa ini tidak tergolong besar. Namun dampaknya tidak kecil.

‎Data mencatat sedikitnya 9 orang mengalami luka-luka dan sekitar 1.782 bangunan mengalami kerusakan dgn berbagai tingkat. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam bencana gempa bumi, yang menentukan besar kecilnya dampak bukan semata-mata magnitudo, melainkan kerentanan bangunan dan kesiapsiagaan masyarakat.

Daryono.

‎”Melihat lokasi episenternya, diduga gempa tersebut dipicu oleh aktivitas Sesar Citarik, salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang memanjang dari kawasan Pelabuhan Ratu menuju wilayah Bogor dan sekitarnya,” kata Dr Daryono, S.Si.,M.Si, wakil ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) saat menjawab pertanyaan koranpelita.co, terkait gempa di Sukabumi enam tahun lalu, melalui sambungan selulernya, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

‎Masih kata Daryono, gempa terjadi pada kedalaman dangkal sekitar 10 km (dengan mekanisme geser/mendatar mengiri – sinistral strike-slip), sehingga energi getaran sampai ke permukaan tanpa banyak teredam.

‎”Guncangan dirasakan cukup kuat oleh masy. di Kalapanunggal dan beberapa wilayah sekitar dengan intensitas mencapai sekitar V hingga VI pada skala intensitas Modified Mercally Intensity (MMI). Pada tingkat intensitas tersebut, banyak orang berlarian keluar rumah, benda-benda jatuh dari rak, dan bangunan dengan konstruksinya lemah mulai mengalami kerusakan,” terangnya.

BACA JUGA:  Pengukuhan Pengurus 2025–2030, MUI Jabar Tegaskan Persatuan Umat

‎Jika dicermati lebih jauh, kerusakan yang terjadi bukanlah semata-mata akibat kekuatan gempa, melainkan karena banyak rumah yang dibangun tanpa kaidah konstruksi tahan gempa.

‎”Sebagian besar rumah merupakan bangunan pasangan bata tanpa kolom praktis, tanpa ring balok, serta tidak memiliki pengikat struktur yang memadai. Kondisi seperti ini membuat dinding menjadi elemen paling rentan runtuh ketika menerima getaran horizontal dari gempa bumi,” terangnya lagi.

‎Pelajaran yang sama sebenarnya sudah berulang kali terlihat dalam berbagai peristiwa gempa di Indonesia, mulai dari Gempa Padang Pariaman 2009, Gempa Pasaman 1977, hingga Gempa Cianjur 2022. Polanya selalu sama yaitu korban jiwa muncul bukan karena gempa, tetapi karena bangunan tidak cukup kuat menahan guncangan.

‎”Oleh karena itu, gempa Kalapanunggal seharusnya tidak sekadar dikenang sebagai peristiwa masa lalu, tetapi dijadikan momentum untuk memperkuat mitigasi bencana di tingkat lokal,” ucapnya.

BACA JUGA:  Guru Dibully Murid Diskorsing 19 Hari : Potensi Siswa Tidak Naik Kelas

‎Strategi yang paling mendasar adalah memastikan rumah-rumah masyarakat, dibangun dengan prinsip konstruksi tahan gempa sederhana. Rumah tembok harus memiliki rangka beton bertulang yang terdiri dari pondasi yang baik, sloof, kolom praktis, serta ring balok yang mengikat seluruh dinding. Tanpa elemen-elemen tersebut, bangunan tembok pada dasarnya hanyalah dinding yang berdiri tanpa penopang yang memadai.

‎Dalam kesempatan ini Daryono juga mengingatkan pemerintah khususnya pemerintah daerah untuk juga sinergi dalam memperkuat mitigasi tingkat lokal.

‎”Selain itu, pemerintah daerah juga perlu mendorong program penguatan atau retrofit rumah-rumah yang sudah terlanjur dibangun tanpa standar ketahanan gempa. Program pelatihan tukang lokal, bantuan material struktural, serta penyebaran panduan rumah tahan gempa dapat menjadi langkah nyata untuk mengurangi risiko kerusakan pada gempa berikutnya,” tuturnya.

‎”Disisi lain, pemetaan jalur sesar aktif seperti Sesar Citarik juga penting untuk memastikan bahwa pembangunan infrastruktur vital tak berada tepat di atas jalur sesar aktif,” pungkasnya.

‎Hal yang tidak kalah penting adalah edukasi masyarakat. Selama ini perhatian publik sering tertuju pada ancaman gempa besar dari zona megathrust di laut. Padahal, gempa yang paling sering menimbulkan kerusakan justru berasal dari sesar aktif di daratan yang lokasinya dekat permukiman warga.

BACA JUGA:  Usai Santap Nasgor MBG, Ratusan Santri dan Warga Demak Diduga Keracunan 

‎”Pemahaman tentang langkah keselamatan seperti “drop, cover, and hold on” yang artinya jatuh diri kemudian merunduk, berlindung, dan berpegangan yang kuat, jalur evakuasi, serta titik kumpul aman perlu terus disosialisasikan secara berkelanjutan,” ulasnya.

‎”Gempa Kalapanunggal 2020 memberi pesan sederhana namun sangat penting, gempa mungkin tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi. Kuncinya ada pada bangunan yang lebih kuat, masyarakat yang lebih siap dan kebijakan pembangunan yang lebih sadar risiko dan berbasis risiko,” tandasnya.

‎Melawan lupa terhadap peristiwa ini berarti memastikan bahwa pelajaran yang diberikan oleh alam tidak terulang dalam bentuk korban pada masa yang akan datang. (red)