Gempa Kuat M7,4 Guncang Vanuatu: Analisis Tektonik dan Risiko Tsunami

Daryono.

KORANPELITA.CO – Pada hari Senin, 30 Maret 2026 pukul 15:44WIB, gempa bumi berkekuatan M7,4 mengguncang Vanuatu, Pasifik. Episenter gempa terletak di laut, sekitar 35 km sebelah timur laut Luganville, Vanuatu.

 

Mekanisme Tektonik

Dr Daryono,S.Si., M.Si., anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) mengatakan, Jakarta, Senin (30/3/2026) bahwa gempa ini dipicu oleh deformasi batuan dalam slab Lempeng Pasifik yang tersubduksi di bawah Lempeng Australia. Sehingga gempa semacam ini popular disebut sebagai gempa dalam lempeng (intra-slab eaerthquake). Karena patahan terjadi pada kedalaman menengah, maka energi gempa tidak cukup untuk memicu tsunami. Meski demikian, pihak berwenang di Vanuatu tetap mengeluarkan peringatan agar masyarakat menjauhi pesisir dan meningkatkan kewaspadaan.

BACA JUGA:  Truk Pengangkut Barang Terbakar di Adiwerna, Lalu Lintas Sempat Tersendat

 

Konteks Seismotektonik Vanuatu

Secara tektonik, Vanuatu berada di perbatasan antara Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Kawasan ini merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik yang sangat aktif secara seismik. “Aktivitas subduksi megathrust pada busur tunjaman Vanuatu telah menghasilkan ratusan gempa besar sepanjang sejarah,” ujarnya.

 

Catatan Historis Gempa dan Tsunami

Sejak tahun 1863, Vanuatu mencatat lebih dari 100 gempa kuat yang memicu tsunami. Dari jumlah tersebut, 15 kejadian menghasilkan tsunami dengan ketinggian lebih dari 1 meter. Beberapa peristiwa besar antara lain :

• 1965: Gelombang tsunami mencapai 7 meter.

• 1999: Tsunami setinggi 6,6 meter.

• 2015: Tsunami mencapai 8 meter.

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan betapa besar potensi kerusakan akibat aktivitas seismik di wilayah tersebut.

BACA JUGA:  Pengendara Meninggal Dunia dalam Kecelakaan di Lokasi Perbaikan Jalan di Lebak, Diduga Minim Rambu dan Penerangan

 

Aktivitas Terkini

Sepanjang tahun 2024, zona gempa Vanuatu mengalami beberapa gempa kuat, termasuk gempa M7,3 pada bulan Desember yang sempat memicu peringatan tsunami. Hal ini menegaskan konsistensi aktivitas seismik tinggi di kawasan tersebut.

 

Resiliensi dan Kesiapsiagaan Masyarakat

Menurut dia, meskipun ancaman gempa dan tsunami bersifat berulang, masyarakat Vanuatu memiliki tingkat kesiapsiagaan yang relatif tinggi. Pengetahuan lokal mengenai tanda-tanda tsunami serta mekanisme evakuasi berperan penting dalam mengurangi jumlah korban jiwa.

 

Kesimpulan

Menurut Daryono gempa M7,4 pada Maret 2026 ini menegaskan kembali tingginya aktivitas seismik di Vanuatu Subduction Zone. Sejarah panjang gempa dan tsunami di wilayah ini menunjukkan perlunya kewaspadaan berkelanjutan. Resiliensi masyarakat lokal menjadi faktor kunci dalam mitigasi risiko bencana. (red)

BACA JUGA:  Pengendara Meninggal Dunia dalam Kecelakaan di Lokasi Perbaikan Jalan di Lebak, Diduga Minim Rambu dan Penerangan