KORANPELITA.CO – Kurs rupiah masih terus tertekan. Tembus Rp16.000, Bank Indonesia harus kerja ekstra keras untuk menjaga kurs rupiah agar tidak terdepresiasi terlalu cepat. Intervensi tetapi belum berhasil.
Kenaikan suku bunga acuan menjadi 6 persen juga belum efektif menjaga kurs rupiah. Tiba-tiba Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Menteri Keuangan datang ke istana.
“Apakah kondisinya begitu memprihatinkan sehingga harus melapor kepada presiden secara mendadak?,” tanya Anthony Budiawan Managing Director PEPS, melalui saluran selulernya, Jakarta, Senin (23/10/2023).
Lanjut Anthony, apakah jumlah devisa pemerintah masih cukup atau harus ditambal dengan utang lagi?
“Apakah suku bunga acuan harus naik lagi. Bagaimana imbas kenaikan dolar ini ke harga pangan? Semoga masih terkendali,” tandasnya.
Anthony menerangkan bahwa kasus kurs rupiah ternyata jauh lebih serius dari yang diperkirakan. “Bank Indonesia sepertinya sudah menyerah. Secara terbuka mengatakan, Indonesia akan masuk ke rezim suku bunga tinggi untuk jangka waktu panjang: higher for longer, untuk menjaga kurs rupiah agar tidak anjlok terlalu dalam,” terangnya.
Rusia, Ukraina, Timur Tengah, menjadi kambing hitam. Sangat lucu. Karena mata uang Vietnam dan Thailand, misalnya, baik-baik saja. Apalagi mata uang Singapore, sangat baik.
“Tetapi, apapun alasannya tidak penting. Faktanya, kurs rupiah sedang tidak baik, terpuruk, dan nampaknya sangat serius,” tegasnya.
Bank Indonesia juga menegaskan, selama ini menjaga kurs rupiah dengan intervensi pasar. Tetapi upaya ini rupanya tidak berhasil. Kurs rupiah masih merosot. Kenaikan suku bunga acuan beberapa hari yang lalu menjadi 6 persen juga tidak efektif.
Kondisi ini membuat Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Menteri Keuangan harus menghadap presiden Jokowi, hari ini (23/10). Tentu saja, bukan untuk hal biasa-biasa saja. Pasti ada masalah sangat serius, kurs rupiah sedang menghadapi tekanan serius.
“Bank Indonesia menyerah, masuk rezim suku bunga tinggi. Untuk jangka waktu lama. Ekonomi akan tertekan. Harga pangan, BBM dan tarif listrik akan terkerek naik. Inflasi meningkat. Dan jumlah rakyat miskin juga akan meningkat,” pungkasnya.
Sedangkan orang kaya akan semakin kaya. Mendapat ‘durian runtuh’ kenaikan kurs dolar AS.
“Semoga masyarakat siap mengatasi kesulitan ini. Siap menjadi semakin miskin. Apakah siap?,” tutupnya.(**)



