
Jakarta, koranpelita.co — Bukan sekadar mengejar kemenangan, 95 petenis junior mendapat kesempatan menguji kemampuan, mental bertanding, sekaligus sportivitas dalam Turnamen Tenis Junior Wali Kota Jakarta Selatan 2026.
Turnamen yang digelar Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) Jakarta Selatan itu berlangsung di Lapangan Tenis Kompleks TNI AU Triloka, Jakarta Selatan, pada 2-4 Oktober 2026.
Ajang yang untuk pertama kalinya digelar tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pembinaan tenis sejak usia dini. Para peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga belajar menghadapi tekanan pertandingan, menjaga disiplin, dan menerima hasil pertandingan secara sportif.
Dukungan terhadap penyelenggaraan turnamen datang dari Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan serta sponsor utama PT Sentra Alkes dan PT Integrasia.
Ketua Pelti Jakarta Selatan Kol. Kes. Dr. Ir. Budi Santoso mengatakan turnamen tersebut dirancang bukan semata untuk menghasilkan juara, melainkan memberikan ruang kompetisi bagi atlet muda agar memiliki pengalaman bertanding sejak usia dini.
“Turnamen ini utamanya untuk pembinaan talenta muda. Kami berharap para atlet bisa siap secara fisik maupun mental untuk berprestasi lebih tinggi lagi,” ujar Budi.
Menurut Budi, kompetisi menjadi bagian penting dalam proses pembentukan atlet. Petenis muda perlu dibiasakan menghadapi lawan, tekanan pertandingan, kemenangan maupun kekalahan sebagai pengalaman untuk meningkatkan kemampuan.
“Sejak usia dini dikenalkan dengan turnamen. Tujuannya supaya tercipta semangat juang yang tinggi, disiplin, dan sportivitas, sehingga secara tidak langsung akan terbangun karakter yang baik untuk berjuang membela negara di bidang olahraga, terutama tenis,” katanya.
Turnamen tersebut mempertandingkan beberapa kelompok usia. Untuk kategori TDP, pertandingan diperuntukkan bagi kelompok usia 12, 14, dan 16 tahun.
Sementara kategori non-TDP mempertandingkan kelompok green ball untuk peserta di bawah 12 tahun dan orange ball bagi peserta di bawah 10 tahun.
Pembagian kelompok tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan dilakukan secara bertahap sesuai usia dan perkembangan kemampuan atlet.
Bagi petenis junior, pengalaman tampil dalam pertandingan menjadi kesempatan untuk mengukur sejauh mana hasil latihan dapat diterapkan ketika berhadapan dengan lawan sesungguhnya.
Budi pun mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan hasil pertandingan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ia meminta para atlet muda terus berlatih dan memberikan kemampuan terbaik, seraya menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam perjalanan mereka menjadi atlet.
“Tetap semangat untuk berlatih dan berjuang. Pasti di balik itu ada dukungan dan doa dari orang tua, maka anak pun harus maksimal dalam usahanya,” ujarnya.
Budi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan, jajaran Wali Kota Jakarta Selatan, sponsor, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan turnamen.
Ia berharap dukungan tersebut dapat berlanjut sehingga turnamen tenis junior ini tidak berhenti sebagai agenda perdana, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu ruang pembinaan atlet muda secara berkelanjutan.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan Firmanudin Ibrahim menilai turnamen tersebut memiliki arti penting dalam proses pencarian dan pembentukan calon atlet berprestasi.
Menurutnya, Jakarta Selatan membutuhkan ruang kompetisi yang dapat mempertemukan latihan dengan pengalaman bertanding. Sebab, kemampuan teknis yang diperoleh dalam latihan perlu diuji melalui kompetisi agar atlet terbiasa menghadapi situasi pertandingan sebenarnya.
“Kami mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan turnamen ini. Mudah-mudahan bisa mencetak generasi atlet baru yang unggul sehingga dari Jakarta Selatan ini bisa menghasilkan para atlet berprestasi,” kata Firmanudin.
Ia mengingatkan para peserta agar tidak mudah patah semangat ketika menghadapi kekalahan.
Bagi Firmanudin, kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari perjalanan seorang atlet. Justru dari pertandingan itulah mental bertanding dapat ditempa.
“Pesannya untuk para atlet junior kita, selalu semangat dan jaga disiplin. Soal menang dan kalah itu hal yang biasa. Yang jelas, dari turnamen seperti ini akan membantu memupuk mental juara para atlet muda kita,” ujarnya.
Turnamen tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan atlet usia dini membutuhkan ekosistem yang lebih luas. Atlet membutuhkan kompetisi, pelatih, dukungan orang tua, organisasi olahraga, pemerintah, hingga dukungan dunia usaha.
Dengan 95 petenis yang turun dalam berbagai kelompok usia, Turnamen Tenis Junior Wali Kota Jakarta Selatan 2026 diharapkan menjadi titik awal bagi lahirnya lebih banyak talenta baru.
Lebih dari sekadar menentukan siapa yang menjadi juara, ajang tersebut menjadi ruang bagi para petenis muda untuk belajar bertanding, mengendalikan emosi, menghargai lawan, menjaga disiplin, dan membangun mental menghadapi persaingan yang lebih tinggi.
Dari lapangan tenis Jakarta Selatan, proses panjang pencarian calon atlet berprestasi itu pun dimulai—satu pertandingan, satu pengalaman, dan satu generasi muda pada satu waktu. (D.Z).


