Sekolah Darurat Kartini dan PALAPA Bersinergi Tanamkan Nilai Luhur Budaya Indonesia

Hetty Andika Perkasa, Ketum PALAPA.

KORANPELITA.CO – Menjelang perayaan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026, Sekolah Darurat Kartini dan Perempuan Laju Perkasa (PALAPA) menggelar perlombaan Lomba Tari Kreasi Nusantara dan talkshow di Grand Metropolitan Bekasi. Disampaikan, ada 16 peserta dari dua kelompok jenjang pendidikan, SD dan SMP yang mengikuti kegiatan ini.

Ketua Umum PALAPA, Hetty Andika Perkasa menyatakan momen peringatan Sumpah Pemuda harus menjadi bagian dari upaya semua pihak di negara ini untuk menghadirkan cinta kasih hingga ke pelosok negeri seperti Papua, NTT, Surabaya, hingga daerah-daerah pemukiman kumuh lainnya.

Flashmob tarian nusantara para peserta dan penyelenggara Lomba Tari Kreasi Nusantara di Grand Metropolitan Bekasi, Minggu (25/10).

“Bagi saya, setiap jengkal tanah air ini adalah rumah kita bersama, dan setiap anak bangsa adalah keluarga kita. Cinta kasih itu tidak boleh berhenti di tempat yang nyaman saja. Justru saudara-saudara kita di wilayah pelosok dan pemukiman yang membutuhkan perhatian ekstra inilah yang harus kita jangkau. Dengan hadir langsung, kita tidak hanya memberikan bantuan materiil, tetapi juga membawa pesan harapan bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Kita ingin mereka merasakan hangatnya kepedulian sesama anak bangsa,” kata Hetty di sela acara, Bekasi, Minggu (25/10/2026).

Ia menyebutkan, pembentukan karakter anak-anak sebagai penerus bangsa, harus dilakukan dengan menanamkan rasa cinta kasih dan semangat gotong royong sejak usia dini.

“Anak-anak adalah fondasi masa depan Indonesia. Ketika kita mengajarkan mereka untuk saling mengasihi, peduli pada sesama, dan terbiasa bekerja sama tanpa membeda-bedakan, secara tidak langsung kita sedang membangun pilar pertahanan bangsa yang paling kokoh. Mengisi dan menjaga kemerdekaan negeri tercinta ini diawali dari hati yang penuh cinta tanah air. Kalau sejak dini anak-anak kita sudah mencintai negerinya dan menyayangi sesamanya, Indonesia akan tetap berdiri tegak dan merdeka selamanya,” ucapnya.

Di momen ini, Hetty pun mengungkapkan harapannya, agar generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama pembangunan.

“Anak muda harus terus melestarikan budaya, menciptakan karya-karya nyata, dan menjadi penggerak di masyarakat—khususnya dari desa-desa, baik di sektor ketahanan pangan maupun industri kreatif. Dan yang paling penting dari semuanya, generasi muda harus berdiri di barisan terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Kemerdekaan dan persatuan yang dahulu diawali oleh tekad Sumpah Pemuda harus terus kita jaga dan rawat bersama!” tegasnya.

Pendiri Sekolah Darurat Kartini, Sri Irianingsih (Rian) dan Sri Rossyati (Rossy), yang lebih dikenal sebagai “guru kembar”, menyatakan, Lomba Tari Kreasi Nusantara dan talkshow yang hari ini digelar, merupakan salah satu upaya untuk tetap mengingatkan generasi muda atas Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda, yang merupakan cikal bakal dari kemerdekaan Indonesia.

“Hal ini harus terus disampaikan, agar anak-anak muda Indonesia bisa terus mengingat nilai-nilai luhur yang dibawa para pejuang kita, dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Apalagi, saat ini infiltrasi budaya asing sangat kencang di Indonesia,” kata Rossy.

Ia mengaku tak pernah lelah dalam mengingatkan para generasi muda untuk terus mempelajari sejarah dan melestarikan budaya Indonesia.

“Apalagi sekarang sudah ada teknologi ya, ada sosial media. Itu harusnya dimanfaatkan untuk mempelajari sejarah negara kita ini. Scroll sosmed, untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat. Jangan malah menggunakannya untuk hal yang tidak baik,” ungkap Rossy.

Senada, Rian pun menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia yang diraih dengan mengorbankan darah dan jiwa, harus diisi dengan hal-hal positif serta aktivitas yang mampu memberdayakan generasi muda itu sendiri dan masyarakat sekitarnya.

“Dengan adanya kegiatan-kegiatan yang mengusung budaya secara langsung begini, secara tidak langsung akan membuat budaya itu bisa dikembangkan dan juga sekaligus memperkenalkannya pada anak-anak lain yang belum mengenalnya,” kata Rian.

Baik Rian maupun Rossy berharap, generasi muda Indonesia mampu menjadi generasi yang berintegritas, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan intelektual, namun tetap mengedepankan adab dan etika dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Indonesia ini tumbuh dalam nilai-nilai gotong royong, dan itu harus tetap dijaga. Kejujuran, etos kerja, disiplin, kepedulian sosial, dan toleran harus menjadi bagian penting dalam sikap dan perilaku generasi muda. Sehingga, saat mereka nanti menjadi penerus bangsa, akan mampu menjadikan Indonesia menjadi negara maju dan berdaya saing internasional tanpa melupakan budaya luhur negara ini,” pungkasnya. (red/*)