Ekologi Pemberontakan: Saat Jamur Lebih Kuat dari Politik Monokultur

Urip Haryanto.

Artikel ini dibuat oleh: Urip Haryanto.

KORANPELITA.CO – Dua cara matikan rumput, dua wajah kekuasaan. Petani punya dua cara bersihkan rumput.

Cara cepat: Semprot racun. Tiga hari kuning, seminggu mati. Tetapi tanah ikut rusak, residu mengendap dan tinggal, biaya mengalir tiap bulan.

Cara pelan: Gelar terpal hitam. Tiga sampai enam minggu, rumput mati hingga ke akar karena tidak terkena cahaya. Tanah aman, rumput busuk jadi pupuk, terpal bisa dipakai lagi. Hemat, bersih, terlihat terhormat.

Yang kedua kelihatan bijak. Tapi kalau rumput itu adalah rakyat, maka terpal itu adalah masalah.

 

Terpal Itu Karpet Plastik Bernama Monopoli Kebenaran

Anggap rumput = masyarakat akar rumput. Akarnya = suara rakyat. Cahaya matahari = ilmu, kebenaran, dan akses informasi yang jujur.

Saat semua wacana, kurikulum, dan “kebenaran” hanya boleh turun dari atas, itu sama dengan menutup Rakyat dengan terpal.

Apa yang terjadi di bawah terpal?

1. Cahaya asli ditutup. Diganti “langit buatan” yang dicat biru: narasi tunggal, berita seragam, tafsir resmi yang nggak boleh dibantah.

2. Energi panas dari bawah. Rakyat dibuat sibuk rebutan isu panas: identitas, buzzer, bansos. Energi habis buat saling “rebus”, bukan buat tumbuh ke atas.

3. Akar busuk pelan-pelan. Suara kritis mati, lalu dijadikan bukti: “Lihat, rakyat memang nggak bisa mikir sendiri. Harus dipandu”.

Ini bukan demokrasi. Ini politik monokultur. Kelihatan tertib dan rapi, tapi akarnya mati. Sekali krisis datang, semua roboh karena tidak ada yang bisa mandiri.

 

Cara Hutan Merobek Terpal: “Ekologi Pemberontakan”

Terpal setebal apa pun tidak bisa jebol karena disobek dari luar. Ia jebol karena dari bawah ada kehidupan yang tidak bisa dibendung.

Dibawah terpal, ada tiga kekuatan yang kerja diam-diam:

1. Tanaman Keras Berakar Tunjang: Komunitas basis, koperasi, pesantren, kampus, adat. Tugasnya jaga tanah tetap hidup walau gelap. Mereka tidak rewel minta cahaya, tapi menyimpan nutrisi buat semua.

2. Jaringan Jamur Bawah Tanah: Ini mycorrhizal network versi masyarakat. Grup WA, forum tani, diskusi kampus, warung kopi. Tidak kelihatan, tidak pakai izin, tapi menyambungkan semua akar. Info, bibit, dan bantuan muter di situ.

3. Tunas Tumbuhan Tinggi: Anak muda yang haus ilmu. Begitu ada celah cahaya sekecil lubang jarum, ia ngebut naik. Satu pohon cukup untuk mengangkat terpal dari dalam.

Prinsipnya satu: Jangan lawan terpal dengan parang. Lawan dengan kehidupan. Kasih akar dengan nutrisi, sambungkan jaringan, siapkan tunas. Nanti terpal akan lapuk sendiri karena di bawahnya hutan mau tumbuh.

 

Kesimpulan: Rakyat Bukan Rumput, Tapi Hutan Yang Sabar

Satu, demokrasi sejati itu ekologi, bukan sekadar prosedur 5 tahunan. Demokrasi yang menutup cahaya ilmu adalah pemusnahan massal yang kelihatan terhormat.

Dua, gerakan bawah tanah adalah antisipasi, bukan makar. Tugasnya merawat tanah, menyambung akar, dan menyiapkan tunas. Agar saat terpal lapuk, yang muncul bukan lahan kosong, melainkan hutan yang beragam dan kuat.

Tiga, politik monokultur akan selalu kalah dengan ekologi pemberontakan. Karena terpal bisa menutup cahaya, tapi tidak bisa mematikan kehidupan. Jamur di akar akan selalu lebih kuat dari peraturan di atas kertas.

Jadi pertanyaannya bukan “kapan terpal dirobek”. Pertanyaannya: “Kita mau jadi apa di bawah terpal ini?”

Jadi akar tunjang yang merawat basis, jadi jamur yang menyambungkan, atau jadi tunas yang bersiap menyundul cahaya?

Sebab kami bukan sekadar rumput yang pasrah ditutup. Kita rakyat adalah hutan yang sabar. Dan hutan tidak pernah minta izin untuk hijau. (*)