Perang Iran – Amerika : Sangat berbahaya, Krisis Energi

Syafril Sjofyan.

Artikel ini dibuat oleh : Syafril Sjofyan – Pemerhati Kebijakan Publik, Aktivis Pergerakan 77-78, Sekjen APP-Bangsa dan Sekjen FTA

 

KORANPELITA.CO – Awal Maret perang dimulai harga naik $93 (sebelumnya $80). Prediksi konflik terbatas harga akan naik $100 – $115. Sekarang Hormuz terganggu, beberapa kilang dihancurkan, perang jadi lama harga akan naik $120–150. Jika perang meningkat menjadi perang regional akan melonjak $150–220. Pasar energi saat ini sangat khawatir pada terjadinya “perang regional”.

Bagi Indonesia potensial berdampak kepada subsidi BBM bisa mencapai Rp200–300 triliun. Karena Indonesia sangat sensitif terhadap harga minyak dunia, karena produksi hanya ±600 ribu barel per hari (bph) sedangkan konsumsi ±1,6 juta bph. Stock penyimpanan hanya mampu untuk persediaan 20 -25 hari.

Pertanyaannya apakah prediksi perang tersebut akan lama, itu mungkin. Faktanya perkiraan Trump bahwa Iran akan takluk 4 hari, setelah pimpinan tertinggi Ayatullah Ali Khamenei dibunuh meleset, malah perlawanan Iran semakin menjadi. Trump terakhir merubah perkiraannya 49 hari. Namun itupun sulit terjadi. Jika perang Iran vs Amerika-Israel berdurasi panjang berpotensi menjadi krisis energi terbesar sejak 1973. Sangat berbahaya!

Terjadinya krisis energi tahun 2026 berpotensi berbahaya. Sebagai perbandingan krisis 1973 supply hilang 4-5 juta bph. Waktu Perang Teluk 1990 supply hilang 4 juta bph. Perkiraan perang Irak vs Amerika tahun 2026 ini selat Hormuz ditutup, supply hilang dari pasar hingga 20 juta bph. Karena sekitar 20% minyak dunia melewati jalur ini. Akan terjadi “shock energi” terbesar dalam sejarah modern ditahun 2026. Ulah dari dua orang gila perang Trump dan Netannyahu.

BACA JUGA:  InJuourney Airports KC Bandara Soetta Pastikan Kesiapan Operasional Hadapi Angkutan Lebaran 2026

Kini perang telah menyasar saling menghancurkan infrastruktur minyak sebagai target utama. Berakibat hancurnya kilang di Timur Tengah baik di Iran, di Saudi dan dibeberapa negara lainya termasuk kilang di Israel. Jika kilang besar rusak pemulihan bisa mencapai 6–12 bulan.

Karena lokasi perang di Timur Tengah jalur laut global terganggu selain Laut Hormuz, juga Laut Merah, Teluk Aden dan Bab el-Mandeb. Artinya logistik energi dunia lumpuh sebagian. Cadangan minyak dunia menipis, cadangan strategis negara OECD sekarang lebih kecil dibanding 1990 dan2008. Karena banyak negara sudah menguras cadangan setelah krisis Ukraina.

Jika ladang minyak Iran dihancurkan oleh Israel dan Amerika, maka dampaknya terutama dirasakan oleh negara-negara yang selama ini membeli minyak Iran. Siapa yang paling dirugikan. Negara pembeli utama minyak Iran adalah China sekitar 80 – 90% dari total ekspor Iran. Volume ekspor Iran sendiri sekitar 1,2 – 1,8 juta barel per hari. Artinya China yang paling dirugikan jika ladang minyak Iran hancur. Banyak kilang kecil China (teapot refineries) bergantung pada minyak Iran dengan harga lebih murah $5 – 10 per barel.

BACA JUGA:  Jaksa Agung: Mekanisme DPA-Denda Damai Bidang SDA Solusi Percepat Pertanggung-jawaban Pidana dan Pemulihan Lingkungan 

Disamping itu China mengimpor sekitar 11–12 juta barel minyak per hari. Jika harga minyak dunia naik tajam biaya manufaktur China akan naik, ekspor menjadi lebih mahal, pertumbuhan ekonomi melambat. Ini memberi tekanan besar pada ekonomi China yang sangat bergantung pada industri dan ekspor.

Sepertinya ada “strategis geopolitik energi Amerika” dibalik serangan Amerika-Zionis Israel tanpa dasar melanggar hukum internasional terhadap Iran. Untuk mengalahkan ekonomi China terutama sasarannya menghancurkan kilang minyak Iran. Jika minyak Iran hilang dari pasar, ekonomi China terpukul.

Walaupun pembeli minyak Iran terbatas pada negara tertentu, hilangnya produksi Iran tetap mempengaruhi seluruh dunia. Karena Iran adalah produsen besar OPEC, produksi sekitar 3 – 4 juta barel per hari. Jika sebagian produksi hilang suplai dunia berkurang, harga minyak melambung.

Amerika Serikat sendiri sekarang adalah produsen minyak terbesar dunia shale oil. Jika harga tinggi justru menguntungkan perusahaan energi Amerika. Negara produsen lain mendapat keuntungan adalah Rusia eksportir energi besar, Arab Saudi dan Norwegia pemasok energi Eropa. Negara-negara ini mendapat “windfall profit” dari harga tinggi.

BACA JUGA:  Wagub Banten Instruksikan OPD Turun ke Lapangan Tangani Banjir di Sejumlah Wilayah Banten

Selain China negara-negara yang paling terpukul terhadap krisis energi. Adalah negara yang sangat bergantung kepada impor minyak. Asia Timur negara Jepang, Korea Selatan, Taiwan. Untuk Asia Selatan negara India, Pakistan dan Banglades. Asia Tenggara negara Indonesia dan Filipina. Karena semua wilayah tersebut tidak memiliki produksi minyak dan cadangan yang besar. Oleh karena krisis energi sangat berbahaya. Trump tidak peduli terjadinya krisis di negara sahabat termasuk anggota BoP. Kegilaan nafsu Trump untuk perang harus “dihentikan”.

Bagi Presiden Indonesia, Prabowo Subianto harus punya keberanian untuk keluar dari BoP dan mengajak negara teluk lainnya “menekan” sebagai ancaman kepada Trump untuk segera menghentikan perang. Jika Prabowo “diam dan ragu” semua mimpi dan janji kampanye Prabowo kepada rakyat akan berantakan, bahkan dirinya akan terancam oleh gerakan besar rakyat yang lapar. Tidak ada jalan lain ummat harus “mendesak” Prabowo. (*)