
KORANPELITA.CO – Bencana gempa bumi masih sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia hingga saat ini. Diketahui bahwa gempa bumi belum ada yang bisa memprediksi kapan akan terjadi namun dapat diukur kekuatan magnitudonya setelah terjadi gempa. Banyak bangunan rusak bahkan hancur diakibatkan getaran gempa dengan kekuatan tertentu dan jatuhnya korban jiwa.

Ini adalah fakta yang terlihat jelas pada dokumentasi kerusakan pasca gempa di Padang Pariaman setelah Gempa Sumatera Barat 2009.
“Banyak bangunan rumah mengalami kerusakan berat hingga runtuh karena kualitas struktur yang sangat lemah, terutama tidak adanya tulangan yang memadai pada kolom, balok, dan elemen pengikat antar struktur,” kata Daryono, S.Si.,M.Si., pegiat mitigasi gempa saat menjawab pertanyaan koranpelita.co terkait upaya mitigasi gempa melalui sambungan selulernya, Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Ia melanjutkan, sebagian besar bangunan dibangun dengan pasangan bata tanpa sistem rangka beton bertulang yang memadai, sehingga tidak memiliki kemampuan menahan gaya lateral saat gempa terjadi. Akibatnya, ketika guncangan kuat datang, dinding tidak mampu menyalurkan beban secara stabil dan akhirnya mudah roboh.
Temuan ini menegaskan bahwa dalam banyak kasus bencana gempa, yang sebenarnya menyebabkan korban jiwa bukanlah gempa itu sendiri.
“Banyaknya korban jiwa bukan karena akibat gempa melainkan bangunan yang tidak dirancang dan dibangun sesuai prinsip konstruksi tahan gempa,” pungkas pegiat mitigasi asal Semarang ini.
“Penerapan standar konstruksi yang benar seperti penggunaan tulangan kolom dan balok, ring balok, serta sambungan struktur yang kuat, menjadi faktor kunci dalam mengurangi risiko kerusakan dan korban pada peristiwa gempa di masa depan,” tandasnya.
Terakhir Daryono mengatakan, saat gempa terjadi, bangunan tembok yang diperkuat dengan tulangan besi (beton bertulang) jauh lebih aman menahan guncangan, sehingga membangun rumah dengan struktur yang kuat adalah langkah mitigasi pertama untuk menyelamatkan nyawa.
”Gempa bumi tidak membunuh atau melukai manusia, yang mematikan adalah bangunan yang lemah dan roboh, karena itu rumah harus dibangun dengan struktur kuat dan tembok bertulang besi agar mampu menahan guncangan,” tutupnya. (red)


