Ambis PSI 2029 : Figur Pak Jokowi Sudah Tidak Kuat, PSI Akan Dilupakan Masyarakat 

KORANPELITA.CO – Terkuaknya ambisi PSI di tahun 2029 untuk merebut kota-kota besar dan wilayah baru seperti Bali, DKI Jakarta, hingga Papua Tengah tidak realistis jika melihat kekuatan elektoral partai tersebut saat ini.

‎Saya sih nggak terlalu yakin bahwa PSI ini akan melaju ke Senayan selama parliamentari threshold-nya masih menggunakan 4%,” kata pengamat Politik Ray Rangkuti dalam diskusi daring (webinar), Jakarta, Selasa (3/2/2026).

‎Msih kata Ray, saya dengar Nasdem misalnya ingin sampai 6% gitu ya. Dan kalau dilihat dari fraksi-fraksi di DPR itu, belum ada keinginan untuk menurunkan parliamentari threshold ini ke apakah 2% gitu ya, apalagi 0%. Jadi selama menggunakan 4%, PSI untuk masuk ke Senayan. Itu jadi persoalan pertama, parliament threshold ya.

‎”Yang kedua adalah soal tren. Sekarang ini kan trennya kita lihat itu, saya kira sejak dari 2014 yang lalu, itu bukan memasukkan partai politik masuk ke parlemen tapi trennya itu mengeluarkan partai dari parlemen kan.l, jadi pemilu tahun 2004-2009 lalu, itu partai-partai baru masih punya tempat di parlemen itu seturut dengan parlementalitasnya kan 2% dan saat itu misalnya Nasdem kan partai baru didirikan, masuk Hanura partai baru didirikan masuk, tapi sejak 2024 trennya itu adalah mengecilkan jumlah partai di parlemen. kita tahu 2004 yang lalu adalah PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang keluar dari parlemen. Jadi kalau lihat dari tren, trennya justru mengeluarkan partai dari parlement. Jadi bukan memasukkan partai, apalagi ini adalah partai baru seperti PSI. Jadi kalau pun ada kans (peluang) untuk masuk ke parlement, saya kira kansnya itu lebih besar ke PPP,” papar alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

‎Ray juga mengingatkan bahwa kemarin kita tahu bahwa PPP itu hanya kurang 0,1 persen. Jadi kalau ada kemungkinan partai yang masuk ke parlemen 2029 yang akan datang, saya kurang kan seterbesarnya itu ada di PPP ya, bukan di PSI.

‎Lanjut Ray, faktor yang ketiga adalah soal kalau kita lihat di survei, survei yang tadi sudah disebutkan umumnya suara itu sekarang mengumpul di Gerindra. Sehingga Gerindra leading sendiri sekarang, hampir 30 persen ya. Bahkan PDI Perjuangan merosot, sudah disebutkan tadi.

‎” Jadi semua itu mengumpul di Gerindra sekarang. Sehingga dengan begitu, tren bahwa partai politik ini akan mengecil di parlemen itu, saya kira 2029 yang akan datang juga boleh jadi akan terjadi. Karena sekarang kelihatan suara itu ngumpul ke satu atau dua partai politik. Jadi nggak terpecah seperti yang sebelumnya,” ungkapnya.

‎”Nah faktor yang keempat adalah soal saingan partai PSI, menurut saya adalah Gerindra, bukan PDI Perjuangan. Saya kira PSI itu salah menidentifikasi lawan tanding. Lawan tanding dia itu adalah partai-partai yang bersama dengan Koalisinya Pak Prabowo dan lebih khusus lagi adalah Gerindra, menariknya kalau kalau suara Gerindra solid kuat seperti dalam survei, ini bisa memperkecil suara PSI gitu. Karena yang ketarik itu besar kemungkinannya adalah suara PSI gitu ya,” pungkaasnya.

‎”Kalau Gerindra kuat, ya PSI melemah. Atau sebaliknya kalau memang PSI menguat, ya mungkin Gerindra yang akan melemah. Nah, karena persaingannya bukan persaingannya keluar, persaingannya adalah antar sesama mereka, antar koalisi internal partai politik ini. Kalau dilihat survei-survei yang kemarin, lagi-lagi kan menunjukkan Gerindra menyedot banyak sekali suara dari partai-partai yang lain,” ulasnya.

‎Terkait figur Pak Jokowi masih cukup kuat untuk mendorong PSI untuk mendapatkan suara? “Saya tidak terlalu yakin bahwa Pak Jokowi masih punya mukjizat yang cukup untuk menaikkan suara PSI di 2029 yang akan datang. Nah, perlu kita ketahui bahwa suara Pak Jokowi dari 2024 yang lalu itu juga nggak numpuk ke PSI. Jadi Pak Jokowi sendiri, yang katakanlah misalnya kalau kita buat semacam kesimpulan-kesimpulan awal bawa 8% gitu ya ke Pak Prabowo itu, tapi dukungan 8% ke Pak Jokowi itu ke partainya nyebar ke partai lain bukan ke PSI aja,” terangnya.

‎”Saya kira ya kalau partai PSI kiprahnya begini-begini aja, ya dia lama-lama juga akan dilupakan masyarakat. Ramainya kan ketika ya seperti sekarang aja, misalnya ada rakernas gitu ya atau apa gitu, lama-lama ini kan ditinggalkan oleh orang juga. Sementara pejabat-pejabat dari PSI ya, di dalam pemerintahan Pak Prabowo, kelihatan sibuk ngurus dirinya sendiri aja ketimbang memikirkan membesarkan partai,” tandasnya. (red/er)