Penulis:
Dr. Pauzan Haryono, M.Pd.I Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam 45 Bekasi
Koranpelita.co – Dari Sinjai ke Bekasi, impian bukan hanya fiksi. Dari Unismuh Makassar ke Unisma Bekasi, Jenjang Guru Besar diraih dengan perjuangan gagah berani. Kalimat ini mewakili sedikit perjuangan seorang laki-laki yang memiliki mental pantang menyerah dalam merealisasikan impian.
Baharuddin, dilahirkan dari keluarga sederhana di Kabupaten Sinjai Propinsi Sulawesi Selatan, sebuah kabupaten yang berjarak 163 km dari kota Makassar, menempuh perjalanan 4,5 jam jika menggunakan mobil.
Menempuh pendidikan dasar dan menengah di daerah kelahiran, kemudian melanjutkan Pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Makassar, dan menuntaskan strata dua dan strata tiga di Universitas Negeri Jakarta.
Sempat berkarir beberapa tahun sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Makassar sebelum menjadi dosen tetap Sekolah Pasca Sarjana Universitas Islam 45 Bekasi.
Selama menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Makassar menjalani LDR dengan istri yang tinggal di Jakarta.
Meraih gelar Professor atau Guru Besar Universitas sangat tidak mudah untuk seorang punya kesibukan segudang.
Menjadi dosen yang memiliki kewajiban tri darma: pendidikan, penelitian dan pengabdian dengan administasi yang seabrek dan rigid.
Berkhidmat di Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan tanggung jawab amal usaha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. CEO di sebuah perusahaan logistik yang memerlukan koordinasi dan pengawasan setiap saat.
Keuletan, ketekunan, kerja keras dan manajemen waktu menjadi kunci keberhasilan sosok ramah dan bersahaja ini.
Seorang Baharudin, Guru Besar dengan kepakaran Perencanaan Pendidikan dikenal akrab dan melayani mahasiswa dengan sangat humanis.
Guru besar yang diraih merupakan bukti perjalanan panjang dan perjuangan yang tidak mengenal menyerah.
Meraiih gelar professor di usia setengah abad dengan aktivitas menumpuk merupakan seni pontang-panting dengan segenap cerita suka duka yang menyertainya.
Kurang istirahat, jet lag, ketiduran di kendaraan dan pura-pura segar ketika berhadapan dengan kolega dan mahasiswa merupakan cerita yang mengandung makna dan derita.
Perjuangan administratif menuju Guru Besar juga bukan jalur mulus tanpa hambatan. Menguji dan membimbing mahasiswa tingkat Doktoral di kampus lain, karena kampus sendiri belum punya jenjang S-3. Artikel ilmiah ditolak dan harus direvisi berkali-kali sebelum diterima oleh editor jurnal bereputasi.
Dikejar mahasiswa bimbingan tesis yang dead line dan terancam drop out. Ini sedikit gambaran betapa sosok ini bukan pejuang akademis kaleng-kaleng.
Menjadi saksi perjuangan, teman makan dan mitra diskusi berbobot merupakan kebanggaan dan pengalaman yang sangat bermakna bagi saya. Mengiringi perjalanan dan ikut menghantarkan seorang rekan meraih pucak impian akademis seorang dosen adalah keharuan tersendiri.
Selamat dan sukses atas prestasi yang diraih, kawan. Semangat dan perjuanganmu akan menjadi teladan bagi seluruh civitas akademika Sekolah Pascasarjana Universitas Islam 45. Prof. Dr. Baharuddin, M.Pd adalah contoh sosok akademisi yang mewarnai Institusi dengan kontribusi tiada henti.



