Cikarang Barat, Koranpelita.co – Banjir setinggi 30-50 sentimeter yang melumpuhkan SMP Negeri 4 Cikarang Barat pada Senin (19/1/2026) akhirnya berhasil diatasi berkat aksi gotong royong para relawan kebencanaan. Genangan air yang memaksa sekolah beralih ke pembelajaran daring selama tiga hari telah dikuras, sehingga kegiatan belajar-mengajar tatap muka dipastikan kembali berjalan pada Kamis (22/1/2026).
Kepala SMPN 4 Cikarang Barat, Deary Ratnaningsih, M.Pd., menyampaikan apresiasi mendalam atas solidaritas yang ditunjukkan. “Ini adalah bukti nyata kepedulian sosial. Para relawan datang tanpa diminta, langsung bergerak dengan inisiatif sendiri untuk membantu sekolah kami,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).
Bantuan teknis datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi yang meminjamkan dua unit mesin pompa air (alkon). Namun, tonggak operasi pengurasan berada di pundak relawan yang mengoordinasikan dan menjalankan pekerjaan secara marathon.
Jejaring Relawan yang Bergerak
Aksi tanggap darurat ini mempertemukan berbagai jejaring relawan dari Kecamatan Tangguh Bencana Cikarang Barat (KENCANA), Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Kelurahan Tangguh Bencana (KATANA), dan Desa Tangguh Bencana (DESTANA). Tidak ketinggalan, pimpinan lingkungan setempat, yaitu Ketua RT 001 dan Ketua RW 003 Desa Kalijaya, turun langsung mengerahkan warga.
“Semua bergerak cepat. Begitu air mulai surut, fokus kami adalah mengembalikan fungsi sekolah secepat mungkin untuk anak-anak,” kata seorang koordinator relawan di lokasi.
Joko Suseno, Ketua KATANA Telaga Asih, yang terlibat langsung, menjelaskan bahwa aksi ini sekaligus menjadi latihan nyata kesiapsiagaan. “Ini adalah bagian dari kegiatan siaga bencana kami. Saat ada yang membutuhkan, jaringan relawan siap digerakkan,” ujarnya.
Seruan untuk Solusi Permanen
Meski krisis genangan air telah teratasi, para relawan dan sekolah menyuarakan hal yang sama: perlunya solusi permanen. Joko Suseno menegaskan bahwa aksi responsif hanya penanganan darurat. “Kami bisa membantu menguras hari ini, tapi jika drainase tidak diperbaiki, besok akan terulang lagi,” tegasnya.
Ia menyarankan solusi teknis seperti pembesaran saluran, pembuatan sumur resapan di area sekolah, serta sosialisasi berkelanjutan kepada warga sekitar. “Perlu ada pemahaman bersama untuk menjaga kebersihan saluran air dan tidak menyempitkannya dengan pembangunan liar,” imbuhnya.
Dukungan moral juga datang dari Pemerintah Kecamatan Cikarang Barat dan Desa Kalijaya yang hadir memberikan dukungan.
Deary Ratnaningsih berharap momentum solidaritas ini dapat menjadi pengungkit untuk perbaikan infrastruktur. “Ucapan terima kasih tak terhingga untuk semua relawan. Semoga kolaborasi ini berlanjut hingga terwujudnya perbaikan drainase yang permanen,” harapnya. (Hrs).



