
Bekasi, Koranpelita.co — Di tengah kuatnya arus modernisasi dan dominasi budaya digital, seni wayang golek purwa masih berupaya mempertahankan ruang hidupnya. Upaya itu salah satunya terlihat melalui Festival Dalang Wayang Golek Purwa yang digelar di pelataran Museum Gedung Juang Tambun, Kabupaten Bekasi, Jumat–Sabtu (19–20/12/2025).
Festival ini diselenggarakan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Bekasi bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Bekasi. Kegiatan tersebut mengusung tema “Ngamumule Seni Pawayangan pikeun ningkatkeun ajen seni pedalangan Kabupaten Bekasi” sebagai komitmen menjaga keberlanjutan seni pedalangan di daerah.
Sekretaris Pepadi Kabupaten Bekasi, Rahmatullah, mengatakan festival ini tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan seni, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembinaan dan regenerasi dalang lokal.
“Festival ini merupakan fondasi dari Pepadi. Kami sedang menyiapkan generasi pedalangan, khususnya putra-putri asli Kabupaten Bekasi,” kata Rahmatullah.
Ia menjelaskan, selama ini Bekasi lebih dikenal sebagai kawasan industri. Namun di balik itu, tersimpan potensi seni tradisi yang besar. Hasil penelusuran Pepadi hingga ke tingkat desa menunjukkan banyak bakat mendalang, termasuk nayaga dan juru kawih, yang belum terekspos secara maksimal.
“Yang tampil di festival ini semuanya putra-putri asli Kabupaten Bekasi. Ini menunjukkan potensi kita sebenarnya sangat besar,” ujarnya.
Berbeda dengan ajang pedalangan yang ketat mengikuti pakem, festival ini memberi ruang kebebasan berekspresi bagi para dalang muda. Peserta diperbolehkan menampilkan kreasi masing-masing, baik dari segi gaya penceritaan maupun musikalitas.
“Di sini kami tidak membatasi pakem. Justru kami ingin melihat karakter dan kreativitas dalang muda. Dari situ ciri khas akan lahir,” jelas Rahmatullah.
Antusiasme peserta cukup tinggi. Namun karena keterbatasan waktu, panitia melakukan seleksi dan menetapkan sembilan dalang muda sebagai peserta. Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari pelajar SMP, SMK seni, SMA, hingga mahasiswa.
Rahmatullah menilai, tantangan utama pelestarian wayang golek saat ini bukan hanya regenerasi, tetapi juga dukungan sarana dan prasarana. Kebutuhan gamelan, jumlah penabuh, hingga kualitas audio visual semakin meningkat seiring tuntutan zaman.
“Sekarang kebutuhan gamelan jauh lebih kompleks. Audio visual juga harus menyesuaikan, apalagi pertunjukan kini ikut masuk ruang digital,” katanya.
Selain itu, Pepadi Kabupaten Bekasi juga masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Sekretariat dan tempat latihan belum permanen, sehingga pembinaan kerap berpindah-pindah lokasi.
“Kami berharap ada dukungan konkret dari pemerintah daerah, terutama penyediaan sekretariat dan tempat latihan tetap,” ujarnya.
Melalui festival ini, Pepadi berharap wayang golek purwa tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup sebagai media pendidikan, tuntunan moral, dan identitas budaya masyarakat Bekasi. (Dodo.Z).


