
Jakarta Timur, koranpelita.co – Ada yang berbeda di kawasan Kampung Pedurenen, Jakarta Timur, akhir pekan lalu. Ratusan warga tampak berangkat dengan wajah sumringah, menaiki dua bus besar menuju Garut, Jawa Barat. Mereka adalah jamaah Majelis Ta’lim Musholla Nurul Iman (MTNI) yang mengikuti ziarah dan wisata religi dua hari.
Rombongan berjumlah 120 orang itu berangkat dengan penuh semangat, dilepas langsung oleh Dewan PKS Ust. H. M.Taufiq Zulkipli. bersama KH. Syafii, sosok ulama yang selama ini dikenal aktif dalam pembinaan keagamaan di wilayah Pedurenen.

Ziarah ke Makam Ulama Besar
Sebelum tiba di destinasi utama Kawah Darajat, rombongan terlebih dahulu melakukan ziarah ke dua makam ulama besar di Garut, yakni Makam Syeh Japar Sodiq dan Makam Eyang Papak di kawasan Gunung Haruman.
Di sana, jamaah memanjatkan doa, membaca tahlil, dan merenungi jasa para ulama terdahulu yang telah berperan dalam dakwah Islam di tanah Sunda.
Haji Mursin atau akrab disapa Haji Aboy, sebagai pimpinan majelis, didampingi oleh KH. Syafii Abdulhamid, LC, yang juga merupakan pengajar tetap di MTNI. Sosok KH. Syafii dikenal konsisten memberikan pengajian setiap malam Kamis, menjadi rujukan spiritual para jamaah.
“Ziarah ini bagian dari edukasi rohani. Kita menghormati ulama, mendoakan mereka, dan sekaligus mengingatkan diri sendiri tentang pentingnya melanjutkan perjuangan dakwah,” tutur KH. Syafii.
Dari Gunung Haruman ke Kawah Darajat
Usai ziarah, perjalanan dilanjutkan menuju Kawah Darajat. Jamaah disuguhi panorama alam menakjubkan dengan udara sejuk khas pegunungan Garut. Di tempat inilah mereka beristirahat, menginap selama dua hari penuh, sembari menikmati suasana spiritual sekaligus rekreatif.
Perjalanan panjang itu menjadi sarana tafakur alam. Jamaah diajak merenungi keindahan ciptaan Allah, menyadari betapa besar kuasa Sang Khalik dalam menjaga keseimbangan bumi.
Semua Gratis, Ditanggung Haji Aboy
Yang membuat perjalanan ini semakin istimewa adalah kenyataan bahwa seluruh biaya, mulai dari transportasi, konsumsi, snack, hingga penginapan, ditanggung sepenuhnya oleh Haji Aboy.
“Semua ini saya lakukan dengan ikhlas. Jamaah tidak perlu keluar biaya sepeser pun. Saya hanya berharap doa dari semua agar Allah memberikan kesehatan dan keberkahan,” ungkap Haji Aboy. Kepada koranpelita.co.
Edukasi dan Inspirasi
Perjalanan ini memberikan pelajaran berharga. Jamaah tidak hanya mendapat pengalaman rekreasi, tetapi juga bekal spiritual: menghormati ulama melalui ziarah, serta mensyukuri ciptaan Allah lewat tafakur alam.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa tokoh lokal berperan penting dalam menggerakkan kegiatan positif di masyarakat. Dengan keikhlasan seorang dermawan seperti Haji Aboy, jamaah merasa diperhatikan dan semakin bersemangat dalam beribadah.
“Saya tidak bisa membalas apa-apa selain mendoakan Pak Haji Aboy dan KH. Syafii. Semoga Allah membalas dengan pahala berlipat,” ucap seorang jamaah penuh haru.
Pulang Membawa Semangat Baru
Setelah dua hari penuh kebersamaan, jamaah kembali ke Jakarta dengan wajah cerah. Mereka membawa cerita, pengalaman spiritual, serta semangat baru untuk terus menghidupkan majelis ta’lim di lingkungannya.
Di Pedurenen, nama Haji Aboy kian melekat sebagai teladan kedermawanan, sementara sosok KH. Syafii Abdulhamid, LC tetap menjadi guru ruhani yang istiqamah mendampingi jamaah. (Dodo.Z).


