
Bekasi, koranpelita.co – Tawa anak-anak pecah di udara sore itu. Mereka berlarian riang di bawah panggung sederhana yang berdiri di Kampung Buwekjaya, Rawapisang RT03/02, Desa Tridayasakti, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Dari atas panggung, suara musik, sorak sorai warga, dan gemuruh semangat kemerdekaan seolah berpadu menjadi satu, menandai betapa hangatnya perayaan HUT RI ke-80 tahun ini.
Di kampung ini, kemerdekaan bukan hanya dikenang lewat upacara bendera atau hiasan merah putih di setiap sudut jalan. Lebih dari itu, warga merayakan dengan penuh kegembiraan melalui panggung hiburan rakyat. Ada lomba anak-anak, penampilan seni, hingga musik dangdut yang mengundang warga untuk berjoget bersama.
Kebersamaan yang Terjalin
Ketua RT 03/02, Sukarta, menuturkan betapa pentingnya kegiatan ini dalam menjaga kekompakan warga.
“Kami bersyukur warga sangat kompak. Perayaan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan menumbuhkan semangat kebersamaan,” ujarnya dengan wajah sumringah.
Bagi Sukarta, setiap acara 17 Agustus selalu punya makna khusus. Meski hanya dengan panggung sederhana, energi kebersamaan warga terasa begitu kuat.
Anak-Anak, Sumber Kegembiraan
Di sisi panggung, tampak anak-anak berlarian mengejar hadiah lomba yang dilempar panitia. Senyum mereka menjadi bukti betapa hiburan sederhana bisa menghadirkan kebahagiaan luar biasa.
Salah seorang warga, Eza Fish, mengaku terharu melihat antusiasme anak-anak.
“Luar biasa, anak-anak terlihat senang sekali. Warga juga penuh semangat menyaksikan panggung gembira ini. Kegiatan seperti ini harus terus dilestarikan agar generasi muda tetap merasakan semangat kemerdekaan,” katanya.
Tradisi Nyawer Receh yang Sarat Makna
Namun, yang paling ditunggu-tunggu bukan hanya lomba atau musik, melainkan momen ketika Makucit, salah satu sesepuh kampung, naik ke panggung. Dengan tangannya, ia menebar uang receh ke arah anak-anak dan warga yang berebut dengan penuh tawa.
Tradisi nyawer uang receh ini sudah lama menjadi bagian dari perayaan di Kampung Buwekjaya. Bagi warga, ini bukan sekadar aksi bagi-bagi uang, tetapi memiliki makna simbolis.
“Menyawer uang receh ini bukan sekadar hiburan. Maknanya adalah simbol kebersamaan, keguyuban, dan menanamkan rasa persaudaraan yang kuat antarwarga,” ujar Makucit dengan mata berbinar.
Tradisi ini seakan mengingatkan, bahwa meski recehan itu kecil nilainya, namun jika dibagi dengan ikhlas, ia bisa menghadirkan tawa dan kebersamaan yang tidak ternilai.
Warisan Lintas Generasi
Perayaan HUT RI di Kampung Buwekjaya tahun ini bukan hanya menghidupkan semangat kemerdekaan, tetapi juga menjaga tradisi lokal agar tetap lestari. Dari anak-anak hingga orang tua, semua larut dalam euforia yang hangat.
Di setiap sudut kampung, bendera merah putih berkibar gagah. Lampu-lampu hias berkelap-kelip menambah semarak suasana. Gotong royong, persaudaraan, dan rasa cinta tanah air seakan nyata terjalin dalam keseharian.
Kemeriahan ini menjadi pengingat, bahwa merayakan kemerdekaan tidak harus megah, tetapi cukup dengan hati yang tulus, semangat yang kuat, dan kebersamaan yang erat. Di Kampung Buwekjaya, Rawapisang, makna itu hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.(D.Z).


