PD IWO Kabupaten Tegal Serius Majukan Kawasan Wisata Guci

Objek wisata pemandian air panas Guci di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

KORANPELITA.CO – Pengembangan Kawasan wisata Guci, menjadi perhatian khusus Pengurus Daerah Ikatan Wartawan Online (PD IWO) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Hal ini dilakukan dengan ikut serta aktif dalam acara Ruwatan Bumi, yang diselenggarakan pada Selasa-Rabu, 1-2 Juli 2025.

Seiring dengan acara tahunan tersebut, PD IWO Kabupaten Tegal terus menyuarakan dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang rutin digelar oleh warga kawasan wisata yang terkenal dengan pemandian air panas alami, yang keluar dari lereng Gunung Slamet Jawa Tengah.

Achmad Soleh.

Seorang sesepuh atau tokoh masyarakat Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Dakot, yang telah pensiun dari dinas pariwisata pada tahun 2015.

Dakot mengatakan bahwa ruwatan bumi telah menjadi agenda rutin tahunan, yang dibuat antara tanggal 1 hingga sebelum 10 Muharram, tahun baru Islam.

“Saat ini kami menggelar ruwatan di Pancuran 13, khususnya yang digelar bersama antara warga Desa Rembul dan Desa Guci. Karena pancuran 13, irisannya dua desa ini, jadi setiap rukun tetangga (RT) di kawasan Wisata Guci, mempersiapkan diri untuk menyerahkan hasil pencariannya, di acara Ruwatan Bumi,” kata Dakot, kepada pengurus Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Selasa (1/7/2025).

Dakot sendiri telah bekerja di Dinas Pariwisata Kabupaten Tegal, sejak tahun 1975, saat melakukan itu perintisan jalan dari Daerah Tuwel Guci, sampai pembangunan Pancuran 13.

Acara Ruwatan Bumi, menurut Dakot, dimulai Selasa 1 Juli 2025, usai Sholat Maghrib: masing-masing warga dari desa Rembul dan Guci, serta warga kecamatan Bojong dan BumiJawa, melakukan doa bersama atau istighosah.

BACA JUGA:  Penumpukan Sampah Kota Tangsel ,  Gubernur Banten Berikan Bantuan Fasilitas Pengolah Sampah Organik

“Peserta istighosah semuanya warga masyarakat, khususnya dukuh Pekandangan, Desa Rembul dan warga desa Guci. Di acara itu, biasanya surat-surat atau Ayat suci.Al-Qur’an dibacakan. Kita merasa bersyukur bahwa sampai hari ini kita masih diberi kesehatan, keberkahan, jadi bisa untuk nguri-nguri kebudayaan,” ungkapnya.

Selanjutnya setelah istighosah, acara ruwatan bumi dilanjutkan pada Rabu, 2 Juli 2025, dengan acara tayuban dengan memotong kambing kendit (kambing berbulu hitam, dengan ciri khusus bulu putih di lehernya).

“Kalau penyembelihan kambing kendit, ini untuk ritual adat Jawa dulu ya, ada perlepasan memadikan kambing kendit di pancuran 13 untuk dipotong, terus disembelah di Gunung Kelir. Nah nanti diserahkan ke sesepuh kabupaten Tegal, terus langsung dipotong di pemotongan hewan PT Barokah,” paparnya.

Selain itu, Dakot menjelaskan, ada peran tukar tumpeng antara kepala desa Guci dan Desa Rembul. Doanya dari Desa Guci, jadi silangan. Kayak orang Besanan gitu. Tumpeng persembahan warga nanti diserahkan kepada siapa yang ada di situ. Bisa bupati, Kepala Dinas Pariwisata dan Pak Kapolres, nanti tergantung yang hadir pada saat itu.

“Jadi potong tumpeng diserahkan ke tamu-tamu kehormatan. Di situ ada pembacaan doa juga. Ada sambutan. Kemudian ada tari-tarian. Sekarang sudah ada tambahan-tambahan kesenian, pesertanya dari tingkat PAUD, sekolah dasar sampai SMA. Setelah ada kemajuan sehingga ada tarian dari masing-masing kejamatan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Penumpukan Sampah Kota Tangsel ,  Gubernur Banten Berikan Bantuan Fasilitas Pengolah Sampah Organik

Dakot menyatakan, adanya ruwatan bumi, diharapkan mendapat berkah dari Allah SWT. Karena warga desa wisata Guci hanya menjalankan bagiannya, sebagai manusia yang memuliakan sang pencipta.

“Yang tahu Allah aja lah. Kalau kita sikapnya sebagai manusia tinggal melakukan. Ini bukan nyalai aturan (agama-Red) karena kita melanjutkan tradisi. Dimana-mana kan desa ada tradisinya masing-masing yang sudah jalan bertahun-tahun,” ujarnya lagi.

Untuk meneruskan tradisi ruwatan bumi di kawasan wisata Guci, Dakot menjelaskan nilai tradisi diwariskan sejak usia dini, ini dari Pakud, TK sampai SMP, SD, SMA. Agar generasi berikutnya tinggal melanjutkan, karena dari mulut ke mulut promosinya bukan pakai banner.

“Ya mudah-mudahan gini aja, karena masyarakat sudah belajar bersama-sama untuk mensyukuri kenikmatan hidup, bisa memberikan sodakoh. Kambing dipotong untuk warga. Ya kan gitu, terus kalau apa yang ada di sini, hasil buminya dirayakan, disuguhkan kepada semua pengunjung atau warga,” paparnya.

“Kambing Kendit seharga 13 juta itu, alhamdulillah di tahun ini ada dari warga sendiri yang menyumbangkan, ada juga dari perusahaan swasta. Ya istilahnya juga sudah ada dukungan juga. Makanya kita berterima kasih kepada semua pihak. Orang yang ikhlas untuk memberikan sesuatu,” ucapnya.

Sementara itu, ketua Pengurus Daerah Ikatan Wartawan Online Kabupaten Tegal, Ahmad Sholeh mendukung penuh acara ruwatan bumi yang digelar tiap tahun di kawasan wisata Guci. Dukungan moril dan materiil akan dijalankan oleh seluruh pengurus IWO.

BACA JUGA:  Penumpukan Sampah Kota Tangsel ,  Gubernur Banten Berikan Bantuan Fasilitas Pengolah Sampah Organik

“Kami menilai tradisi ruwatan bumi yang diselenggarakan pada 1-2 Juli 2025 di Guci, harus terus dilestarikan. Ini menjadi agenda untuk menjaga nilai-nilai leluhur dan meningkatkan kunjungan wisatawan di kawasan wisata yang penuh potensi alam dan keindahan di dalamnya,” kata Achmad Sholeh.

Menurut Achmad, IWO akan bekerja sama lebih lanjut dengan Pemerintah Kabupaten Tegal, khusunya Dinas Pariwisatanya, untuk terus menggali berbagai potensi di bisnis keramahtamahan ini.

“Kami sepakat bersama Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tegal, untuk mengawal pengembangan pariwisata. Itu sudah menjadi tugas tanggung jawab kita bersama untuk memajukan daerah tempat kita hidup dan mencari penghidupan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, PD IWO Kabupaten Tegal akan terus mengembangkan langkah-langkah dan bersinergi dengan banyak pihak untuk mengembangkan pariwisata di Kabupaten Tegal, baik melalui sarana offline maupun digital.(her/tim)