Pendamping Anies di Pilpres 2024 : Harus Punya Kekuatan Politis, Logistik dan Elektoral

Jerry Massie, Direktur P3S.

KORANPELITA.CO – Sejak awal pembentukan Koalisi Perubahan, ada dua nama yang mencuat sebagai kandidat kuat bakal cawapres pendamping Anies Baswedan, yakni Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) serta Wakil Ketua Majelis Syura PKS Ahmad Heryawan (Aher).

Seiring berjalannya waktu, muncul nama lain yang juga dinilai layak untuk dipasangkan dengan mantan Gubernur DKI Jakarta itu di Pilpres 2024.

Nama-nama lain tersebut, seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, hingga putri Presiden ke-4 Gus Dur yakni Yenny Wahid.

Bahkan, terkini muncul isu Ketua Umum Partai NasDem ‘Surya Paloh” juga masuk bursa bakal cawapres pendamping Anies.

Lantas, dari sederet nama tersebut siapa tokoh yang paling cocok dipasangkan dengan Anies sebagai bakal capres- cawapres di Pilpres 2024 mendatang?

Pengamat politik Jerry Massie mengatakan bahwa cawapres pendamping Anies Baswedan di Pilpres 2024 harus memiliki kekuatan politis, logistik, dan elektoral.

“Jadi cawapresnya harus punya kekuatan politis, logistik, dan elektoral. Tiga hal itu tak bisa dipisahkan. Karena kalau hanya kuat secara politis atau elektoral tapi logistik tidak ada ya susah juga, begitu juga sebaliknya,” kata Jerry dalam keterangannya melalui selulernya, Jakarta, Senin (14/8/2023).

BACA JUGA:  Harlah Pancasila 2026, Wali Kota Tangerang Optimistis Keberagaman Jadi Kekuatan

Dari kekuatan politis, sebut Jerry, AHY, Aher, dan Surya Paloh unggul karena NasDem, Demokrat, dan PKS punya kursi di parlemen yang mendukung pembentukan koalisi agar memenuhi ambang batas pencalonan presiden atau Presidential Threshold (PT) 20%.

“Saya rasa kalau Surya Paloh jadi cawapres kemungkinan Demokrat akan cabut dari Koalisi Perubahan. Demokrat lebih memilih gabung dengan koalisi pendukung Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto,” terangnya.

“Apalagi kita lihat akhir-akhir ini AHY dan Puan Maharani (Ketua DPP PDIP) makin akrab. Jadi kalau AHY gagal jadi cawapres Anies maka bisa jadi koalisi bubar,” sambungnya.

Dari sisi elektoral, Jerry menyebut para kandidat yang masuk bursa bakal cawapres tentu punya peta dukungan masing-masing yang dapat mendongkrak elektabilitas Anies.

Sementara soal logistik, Jerry berpendapat faktor ini menjadi sangat penting karena mahalnya biaya politik yang harus dikeluarkan capres-cawapres.

BACA JUGA:  Wali Kota Tangsel Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Amalkan Nilai-nilai Pancasila Sebagi Pedoman

“Mulai dari sosialisasi, pertemuan elit politik, kampanye ke berbagai daerah, pemasangan alat peraga, anggaran untuk mendukung tim kampanye, hingga iklan di media, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” tutur Direktur Political and Public Poicy Studies (P3S) ini.

Dalam hal ini Jerry berpendapat bahwa Anies kurang secara logistik. Kecuali kalau ada sponsorship maka siapapun yang dipilih jadi cawapres tidak terlalu mempersoalkan logistik.

Menurutnya, jika tidak ada pihak eksternal yang membantu secara logistik, maka bakal cawapres yang dipilih harus mempunyai kekuatan logistik.

“Kalau dari segi logistik saya rasa Surya Paloh, Gatot, Aher, bisa juga Khofifah. Kalau AHY secara pribadi mungkin lemah, kecuali Partai Demokrat punya budgeting yang bagus atau mengandalkan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Kalau SBY tidak dilibatkan ya sulit juga,” ungkapnya.

“Pertanyaannya mereka berani nggak mengeluarkan cost yang besar selama perhelatan Pilpres? Karena kekuatan logistik ini sangat penting,” ungkapnya.

Namun, lanjut Jerry, soal logistik ini bisa ditanggulangi jika semua partai yang tergabung dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan sepakat dengan sistem ‘politik patungan’.

BACA JUGA:  Harlah Pancasila 2026, Gubernur Banten Ajak Perkuat Komitmen Kebangsaan di Peringatan Hari Lahir Pancasila

“Sistem politik patungan, misalanya PKS, Demokrat, dan NasDem patungan berapa-berapa. Jadi kalau kita bicara semuanya itu tergantung logistik atau anggaran,” imbuhnya.

Secara khusus soal keterwakilan perempuan dalam bursa bakal cawapres pendamping Anies, Jerry menilai Khofifah lebih unggul dibanding Susi Pudjiastuti dan Yenny Wahid.

“Khofifah lebih dijagokan dibanding Susi dan Yenny. Karena dia punya pemilih yang loyal di Jawa Timur. Secara logistik juga dia bisalah. Jadi secara politis, elektoral, dan logistik dia unggul,” terang Doktor komunikasi politik lulusan America Global University ini.

Kesimpulannya, dari nama-nama yang masuk bursa bakal cawapres pendamping Anies, Jerry menilai mereka memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. (red1)