Washington DC, Koranpelita.co – Dana Moneter Internasional (IMF) minggu depan akan menurunkan perkiraannya untuk pertumbuhan ekonomi global 2,9 % pada 2023, Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, pada hari Kamis (06/10) kemarin, mengutip dari aljazeera.com, mengatakan bahwa prospek ekonomi global “gelap” mengingat guncangan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, perang Rusia ke Ukraina dan bencana iklim di semua benua, dan itu bisa menjadi lebih buruk.
“Kami mengalami perubahan mendasar dalam ekonomi global, dari dunia yang relatif dapat diprediksi ke dunia dengan lebih banyak kerapuhan, ketidakpastian yang lebih besar, volatilitas ekonomi yang lebih tinggi, konfrontasi geopolitik, dan bencana alam yang lebih sering dan menghancurkan,” katanya dalam sebuah pidato di Universitas Georgetown di Washington, DC.
Masih kata Georgieva, dia mengatakan tatanan lama, yang dicirikan oleh kepatuhan pada aturan global, suku bunga rendah dan inflasi rendah, memberi jalan kepada tatanan di mana negara mana pun dapat terlempar keluar jalur dengan lebih mudah dan lebih sering.
Dia mengatakan semua ekonomi terbesar di dunia seperti China, Amerika Serikat dan Eropa, sekarang ekonominya melambat, yang mengurangi permintaan ekspor dari negara-negara berkembang, yang sudah terpukul keras oleh harga pangan dan energi yang meroket tinggi.
“IMF akan menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi di tahun 2023 dari 2,9 %, revisi penurunan keempat tahun ini, ketika merilis World Economic Outlook minggu depan,” ungkap Georgieva.
Pemberi pinjaman global akan membiarkan perkiraan saat ini untuk pertumbuhan 3,2 persen pada tahun 2022 tidak berubah, dan tidak memberikan angka untuk perkiraan baru tahun 2023.
Perang di Ukraina dan risiko ekonomi global akan mendominasi pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia minggu depan di Washington, DC, yang mempertemukan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari seluruh dunia.
“IMF memperkirakan negara-negara yang menyumbang sekitar sepertiga dari ekonomi dunia akan mengalami kontraksi setidaknya dua kuartal berturut-turut tahun ini atau tahun depan,” tutur Georgieva.
“Secara keseluruhan, IMF memperkirakan output global menyusut sebesar $4 triliun antara sekarang hingga 2026. Itu kira-kira sebesar ekonomi Jerman dan merupakan kemunduran besar-besaran,” tandasnya. (red*)



