JAKARTA, Koranpelita.co – PT PLN (Persero) akhirnya membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kg ke kompor listrik, usai menuai polemik di tengah masyarakat.
Langkah ini dilakukan guna menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi VI DPR RI, Rudi Hartono Bangun, menilai PLN tidak melakukan kajian dan penelitian sebelumnya ketika akan membagikan kompor listrik gratis ke masyarakat.
“Percobaan yang dilakukan PLN dengan membagikan kompor listrik gratis ke masyarakat, tetapi kompor listrik yang dibagi kapasitas dayanya untuk listrik di atas 1500 watt. Artinya meteran listrik masyarakat yang dayanya hanya 900 watt tidak akan mampu untuk mengoperasikan kompor listrik yang dibagikan gratis tersebut. Tidak ada kajian, penelitian, dan studi banding, sehingga menuai polemik (di masyarakat) dan kesannya (program) asal-asalan,” kata Rudi dikutip dari parlementeria, Selasa (27/9/2022).
“Kenapa tidak kompor listrik yang kapasitasnya 400 watt? Sehingga cocok untuk (tegangan) listrik masyarakat di desa. Tidak sinkron kompor listrik yang dibagikan PLN untuk warga desa dengan tegangan listrik warga yang hanya 900 watt. Dan jika warga diminta untuk naikkan daya lagi ke 2000 watt, tentu dikenakan biaya yang tidak sedikit. Tentu warga juga keberatan,” kata Rudi.
Disisi lain, lanjut Rudi yang merupakan politisi Partai Nasdem ini, mengakui tujuan program kompor listrik tersebut yang diharapkan dapat menyerap surplus listrik yang diproduksi PLN sebenarnya sangat tepat. Namun karena program ini dibatalkan, Rudi pun meminta direksi PLN harus bisa mengatasi surplus listrik tersebut.
“Direksi PLN harus memasarkan surplus energinya ke sektor industri dan manufaktur. Mereka para direksi PLN harus banyak inovasi dan kreatif. Untuk apa aset energi listriknya melimpah, tetapi tidak bisa dijual,” kritik legislator dapil Sumatera Utara III itu. (red*)



