Proyek Anggaran APBN PUPR Amburadul Dimodali Bos PT. Djambi Waras

Proses rehab dan renovasi salah satu sarana prasarana sekolah klaster Bungo-Tanjabbar dari Kementerian PUPR dengan anggaran Rp 39 miliar yang dilakukaan asal-asalan.

JAMBI, koranpelita.co – Saat mau dikonfirmasi salah satu pemodal yang bernama Heri Lontiansyah di tempat kerjanya PT. Djambi Waras, nggan ditemui sedangkan proyek rehab dan renovasi sarana prasarana sekolah miliaran rupiah yang dikerjakan asal jadi di Bungo dimodali oleh bos salah satu pabrik karet terbesar di Jambi. Informasi yang didapat awak media, pemodal utama proyek tersebut adalah Heri Lotiansyah, petinggi PT. Djambi Waras, Selasa (2/11/2021).

PT. Djambi Waras adalah pabrik karet dibawah naungan perusahaan induk Kirana Megatara. Heri Lotiansyah tercatat sebagai regional head PT. Kirana Megatara untuk wilayah Jambi 1 yang membawahkan PT Djambi Waras-Jambi dan PT. Djambi Waras-Jujuhan di Bungo.

“Bos atau pemodalnya Gusrian Wirianto itu, ya lah Heri Lotiansah PT. Djambi Waras. Heri ini omnya Gusrian,” ungkap sumber dari kalangan kontraktor daerah Jambi. Gusrian adalah pelaksana proyek rehabilitasi dan renovasi lima sekolah di Bungo yang dikerjakan asal jadi sehingga dibongkar lagi.

Hubungan antara Gusrian Wirianto dan Heri Lotiansyah pun terbaca dari dokumen PT. Jambi Energi Cemerlang (JEC) yang juga bermasalah dalam membangun jembatan Parit Gompong Kualatungkal senilai Rp 18 miliar.

Dalam dokumen terakhir yang didapat Tim Metro Jambi, yang terdiri atas media koranpelita.co dan Jurnal Jambi, baik Gusrian maupun Heri tercatat sebagai direktur di PT. JEC. Keduanya juga merupakan pemegang saham perusahaan yang tercatat beralamat di Jl. Raden Pamuk, Kasang, Jambi Timur ini.

Proyek di Bungo merupakan bagian dari rehab dan renovasi sarana prasarana sekolah klaster Bungo-Tanjabbar dari Kementerian PUPR dengan pagu anggaran Rp 39 miliar. Tender proyek APBN 2021 ini dimenangkan oleh PT Karya Bersama Putra Mandiri milik Maries Lubis dengan penawaran Rp 31,9 miliar.

Di lapangan, pekerjaan dikendalikan oleh Gusrian Wirianto, yang diketahui juga di-sub kontrakkan ke sejumlah pihak. Berdasarkan kontrak, proyek tersebut meliputi lima SD di Bungo dan 11 SD dan SMP di Tanjab Barat.

Belakangan diketahui, semua pekerjaan di Bungo bermasalah karena dibangun di atas pondasi lama, dengan besi dan sloop yang tidak sesuai RAB. Akhirnya, kontraktor diminta membongkar semua bangunan tersebut untuk membuat pondasi baru.

Tak hanya di Bungo, sebagian pekerjaan di Tanjab Barat juga bermasalah. kali molor, beberapa pekerjaan juga terkesan asal-asalan. Namun Balai Prasana dan Permukiman Wilayah (BPPW) Jambi yang dikepalai Azna Legawaty terkesan tidak tegas menyikapi kinerja PT. KBPM.

Di tempat terpisah, Koranpelita .co, mencoba mendatangi PT. Djambi Waras untuk mengkonfirmasi terkait keterlibatan Petinggi PT. Djambi Waras dalam pendanaa proyek senilai 31,9 Miliar, yang asal-asalan tersebut.

Tiba di PT. Djambi Waras, Koranpelita.co, sempat melihat Heri Lotiansyah namun sulit untuk dimintai keterangannya terkait keterlibatan dirinya dalam proyek senilai 31,9 miliar tersebut.

Namun kami mencoba menghubungi salah satu karyawan untuk meminta memfasilitasi pertemuan dengan Heri namun Heri Lotiansyah tak mau dijumpai.

Salah satu karyawan yang kami minta tolong mengatakan “maaf bang, bapak Heri tak mau ditemui”.  (Rizal)