Kampung Korod di Selatan Bekasi Dibidik Jadi Wisata Sunda, Sawah hingga Leuit Jadi Andalan

Leuit atau lumbung padi tradisional masih dipertahankan warga Kampung Korod sebagai salah satu jejak budaya Sunda di wilayah selatan Kabupaten Bekasi.

Bekasi, Koranpelita.co – Kampung Korod, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, mulai dilirik untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata bernuansa Sunda. Bukan tanpa alasan, kampung yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga itu masih mempertahankan hamparan persawahan, aktivitas pertanian hingga leuit atau lumbung padi tradisional.

Potensi tersebut kini ingin diangkat menjadi kekuatan baru kawasan perdesaan. Gagasannya bukan sekadar mempercantik kampung, tetapi membuat jalur wisata dan olahraga yang menyusuri persawahan, menghadirkan kuliner warga hingga menghubungkannya dengan jembatan gantung hasil pembangunan TNI melalui program TMMD 2026.

Namun, ada pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan. Di balik potensi wisata dan budaya Sunda, warga Kampung Korod masih menghadapi persoalan air bersih ketika kemarau panjang serta akses jalan dan infrastruktur dasar yang membutuhkan pembenahan.

Plt Sekretaris Kecamatan Cibarusah, Wowo Fadillah, mengatakan karakter Kampung Korod harus menjadi dasar dalam penataan kawasan.

“Penataan Kampung Korod sebagai kampung bernuansa Sunda tentunya tidak terlepas dari potensi dan tantangan yang dimiliki, baik dari aspek fisik maupun nonfisik,” ujar Wowo saat ditemui, Rabu (02/09/2026).

Menurut Wowo, persawahan merupakan aset utama yang harus dipertahankan. Mayoritas warga masih bekerja sebagai petani sehingga lahan pertanian tidak boleh kehilangan fungsi hanya karena kawasan dikembangkan menjadi destinasi wisata.

BACA JUGA:  Target Prestasi, Bekasi Kebut Persiapan Jelang Porprov Jabar 2026

“Sebagian besar masyarakat masih bekerja sebagai petani, sehingga persawahan ini menjadi potensi yang harus dipertahankan dan dikembangkan tanpa menghilangkan fungsi lingkungan yang sudah ada,” katanya.

Selain sawah, keberadaan leuit menjadi kekuatan budaya yang dapat mempertegas identitas Kampung Korod.

“Leuit yang masih ada memiliki nilai historis dan budaya, sehingga dalam penataan nanti keberadaannya jangan sampai hilang, tetapi justru menjadi bagian dari karakter Kampung Korod,” ungkapnya.

Gagasan pengembangan kawasan juga datang dari masyarakat. Warga membayangkan adanya akses yang dapat berfungsi sebagai jalur wisata sekaligus olahraga dengan menyusuri kampung dan persawahan.

“Warga sudah memiliki angan-angan membuat akses jalan sebagai destinasi wisata dan olahraga dengan konsep yang mencontoh Lembur Pakuan, dari pintu gerbang kemudian menyusuri kampung hingga ke area persawahan,” ujar Wowo.

Jalur tersebut nantinya dapat menjadi ruang ekonomi baru bagi warga. Produk kuliner lokal seperti dodol, kerupuk dan rengginang dapat diperkenalkan kepada pengunjung.

“Kalau konsep ini berjalan, kuliner khas warga bisa ikut berkembang dan menjadi bagian dari perjalanan wisata, sehingga penataan ini juga dapat membangkitkan sektor perekonomian masyarakat Kampung Korod,” katanya.

BACA JUGA:  Garuda Indonesia Buka Travel 2026 , 390 Kursi Siap Diburu Mulai Rp 2 Juta PP

Di ujung jalur, terdapat jembatan gantung yang dibangun TNI melalui program TMMD 2026. Infrastruktur tersebut dinilai dapat menjadi salah satu titik tujuan wisata sekaligus memperkuat konektivitas kawasan.

“Pengunjung nantinya bisa menyusuri area persawahan, menikmati kuliner warga, kemudian sampai ke jembatan gantung yang dibangun melalui TMMD dan menikmati kawasan tersebut sebagai salah satu daya tarik,” ungkap Wowo.

Rencana penataan Kampung Korod menjadi semakin relevan setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan gagasan penataan lima desa di Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu dalam rapat paripurna Hari Jadi ke-76 Kabupaten Bekasi pada 15 Agustus 2026.

Wowo menilai penataan kawasan harus berjalan seimbang. Pengembangan wisata dan budaya tidak boleh membuat persoalan dasar masyarakat justru terabaikan.

Saat kemarau panjang, sumur warga dapat mengering dan menyebabkan kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap aktivitas pertanian.

“Persoalan air bersih dan infrastruktur dasar menjadi tantangan yang harus diperhatikan, karena penataan bukan hanya soal memperbaiki wajah kampung, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” jelasnya.

BACA JUGA:  Bandara Soetta  Masuk 10 Besar Dunia dengan Pilihan Kuliner Terbanyak

Selain itu, akses yang direncanakan dapat membuka konektivitas antara Desa Ridogalih dan Desa Wibawamulya.

“Dengan terhubungnya Ridogalih dan Wibawamulya, manfaatnya tentu bukan hanya untuk wisata, tetapi juga untuk mobilitas masyarakat dan pengembangan wilayah di kedua desa,” tuturnya.

Wowo berharap penataan nantinya tidak mengubah Kampung Korod menjadi kawasan yang kehilangan jati diri. Justru, sawah, leuit, tradisi dan kehidupan masyarakat harus menjadi kekuatan utama.

“Harapannya, Kampung Korod tetap memiliki jati diri sebagai kampung Sunda, lingkungannya terjaga, potensi wisatanya berkembang, kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, dan penataan ini pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga,” pungkasnya. (D.Z).