Tambun Selatan, Koranpelita.co – Sabtu siang, suasana Desa Tridayasakti, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, terasa berbeda. Sejumlah warga mulai berkumpul. Percakapan terdengar di antara kerumunan. Beberapa lainnya datang mengenakan atribut dukungan.
Hari itu bukan sekadar akhir pekan biasa. Bagi Sopian, S.E., dan para pendukungnya, Sabtu (12/9/2026) menjadi langkah pertama memasuki pertarungan politik desa.
Sopian, calon Kepala Desa Tridayasakti nomor urut 1, resmi menggelar kampanye perdana. Ratusan simpatisan hadir dan ikut mengiringi perjalanan kampanye tersebut.
Dari titik kumpul, massa bergerak menyusuri jalan desa. Barisan pendukung berjalan tertib, membawa semangat masing-masing untuk memberikan dukungan kepada calon yang mereka pilih.
Di tengah kerumunan itu, Sopian berdiri menyampaikan pesan politiknya. Namun, ia tidak hanya berbicara mengenai kemenangan.
Nomor urut 1 yang melekat di namanya coba diterjemahkan Sopian sebagai sebuah pesan sederhana: tentang kesatuan arah dan tujuan.
“Nomor 1 ini amanah. Satu visi, satu tujuan, untuk Tridayasakti yang lebih maju, adil, dan sejahtera,” tegas Sopian.
Bagi sebagian pendukung, nomor urut mungkin hanya menjadi penanda di surat suara. Tetapi bagi Sopian, angka tersebut ingin dijadikan simbol perjuangan untuk membawa perubahan di Desa Tridayasakti.
Di sinilah kampanye mulai menemukan maknanya. Pilkades bukan semata-mata tentang siapa yang paling banyak mengumpulkan massa atau siapa yang paling ramai mendapatkan dukungan. Lebih dari itu, kontestasi kepala desa menjadi ruang bagi masyarakat untuk menentukan siapa yang dipercaya mengelola pemerintahan desa dan membawa kepentingan warga dalam periode berikutnya.
Karena itu, setiap suara memiliki arti. Setiap pilihan warga akan menentukan arah kepemimpinan desa selama masa jabatan kepala desa terpilih.
Sopian menyadari bahwa perjalanan menuju kursi kepala desa masih panjang. Kampanye perdana hanyalah satu babak dari rangkaian proses demokrasi yang harus dilalui.
Karena itu, di hadapan para pendukungnya, ia juga menitipkan pesan agar persaingan tidak berubah menjadi permusuhan. Perbedaan pilihan, menurutnya, harus tetap berada dalam koridor demokrasi.
Ia mengajak masyarakat menjaga Pilkades Tridayasakti tetap damai, santun, dan kondusif. Sebab setelah pesta demokrasi selesai, seluruh warga akan kembali hidup berdampingan sebagai satu masyarakat Desa Tridayasakti.
Pesan itu menjadi penting. Sebab dalam setiap kontestasi politik, semangat memenangkan pilihan sering kali berjalan beriringan dengan potensi gesekan. Dukungan yang terlalu fanatik dapat berubah menjadi perselisihan apabila tidak dibarengi kedewasaan dalam berdemokrasi.
Di tengah suasana tersebut, kampanye perdana Sopian berlangsung dengan tertib.
Ratusan simpatisan yang hadir menjadi gambaran awal besarnya energi politik yang mulai bergerak di Tridayasakti. Tetapi dukungan massa belum menjadi akhir dari perjalanan.
Masih ada tahapan kampanye, masih ada ruang bagi masyarakat untuk mendengar program dan gagasan seluruh calon, dan pada akhirnya masih ada keputusan warga di bilik suara.
Sopian dan timnya kini telah mengambil langkah pertama. Nomor 1 sudah diperkenalkan kepada masyarakat. Pesan perubahan sudah disampaikan. Dan pertarungan menuju kepemimpinan Desa Tridayasakti pun resmi memasuki panggung terbuka.
Di ujung jalan kampanye, satu hal menjadi pesan bersama: boleh berbeda pilihan, tetapi persaudaraan warga Tridayasakti harus tetap menjadi yang utama.
Satu tekad, satu perjuangan, satu tujuan: Sopian SE menang dan menjadi Kepala Desa Tridayasakti yang dekat serta dicintai masyarakat. (Dodo.Z).



