KORANPELITA.CO – Satuan Pendidikan Non Formal Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Kabupaten Demak resmi menutup Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) Tahun 2026 bidang keterampilan jahit busana yang merupakan program dari Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Demak, Jawa Tengah, Selasa (28/7/2026).
Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak, Dwi Isnaini Saparyati, mengatakan program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan melalui penciptaan wirausahawan baru.
“Acara yang kami tutup hari ini adalah Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) yang bersumber dari Direktorat Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen Tahun 2026. Alhamdulillah, setiap tahun SPNF SKB Demak cukup sering mendapatkan program ini. Program ini cukup berperan dalam penurunan angka pengangguran dan kemiskinan di Kabupaten Demak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lembaga yang memperoleh bantuan harus melalui proses seleksi yang ketat, mulai dari pengajuan proposal, verifikasi administrasi, verifikasi faktual oleh tim pusat, hingga tahap penilaian (desk evaluation) sebelum dinyatakan lolos menerima anggaran.
Menurut Dwi, pemerintah pusat memiliki dua program utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pertama, Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) yang lulusannya diarahkan langsung bekerja di Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (Dudika). Kedua, Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) yang bertujuan mencetak wirausahawan muda.
“Kalau PKK orientasinya bekerja di perusahaan, sedangkan PKW ini orientasinya mencetak dan merintis wirausahawan baru,” kata Dwi.
Ia menambahkan, bantuan PKW terbagi dalam beberapa kategori, yakni platinum, gold, dan silver. SPNF SKB Demak memperoleh bantuan kategori silver yang pelaksanaannya dilakukan secara berkelompok. Sementara kategori platinum umumnya diperuntukkan bagi Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) dengan bantuan yang diberikan kepada peserta secara individu.
Dwi menyebutkan, pada tahun 2026 terdapat dua lembaga pendidikan kesetaraan di Kabupaten Demak yang memperoleh program PKW, yakni SPNF SKB Demak dan PKBM Al-Hikmah. Selain itu, sejumlah LKP juga masih menerima bantuan meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
“Kinerja lembaga menjadi salah satu faktor penentu. Jika pelaksanaan sebelumnya baik, pertanggungjawabannya jelas, dan tracer lulusannya bagus, maka peluang mendapatkan bantuan kembali akan lebih besar,” jelasnya.
Ia mengatakan, pelatihan yang dipilih di Demak didominasi keterampilan menjahit karena disesuaikan dengan kebutuhan industri garmen yang berkembang di daerah tersebut.
“Supaya ada link and match dengan dunia usaha dan dunia industri. Jangan sampai peserta sudah dilatih tetapi akhirnya tidak bisa bekerja atau tidak memiliki peluang usaha,” ungkapnya.
Selain keterampilan menjahit, peserta juga dibekali materi kewirausahaan, mulai dari manajemen usaha hingga pemasaran digital.
“Tidak hanya dilatih menjahit, tetapi juga bagaimana mengelola usaha, memasarkan produk melalui platform digital, hingga mengembangkan usaha dari skala kecil. Harapannya mereka mampu mandiri, bahkan nantinya bisa menyerap tenaga kerja,” tambahnya.
Sementara itu, Plt Kepala SPNF SKB Demak, Adi Wasono, mengatakan pelatihan tahun ini diikuti oleh 15 peserta dengan total durasi pembelajaran selama 150 jam atau sekitar 25 hari kerja efektif.
“Komposisi pembelajarannya sekitar 20 persen teori dan 80 persen praktik. Jadi peserta lebih banyak langsung praktik agar kemampuan menjahit mereka cepat terbentuk,” katanya.
Setelah pelatihan selesai, peserta akan dibagi menjadi tiga kelompok yang masing-masing beranggotakan lima orang. Setiap kelompok akan menerima bantuan berupa mesin jahit, mesin obras, dan berbagai peralatan pendukung sebagai modal awal usaha.
“Setelah pelatihan, peserta dibentuk kelompok dan diberikan bantuan mesin jahit, mesin obras, serta perlengkapan lainnya untuk memulai usaha. Selanjutnya kami melakukan pendampingan dan pemantauan selama kurang lebih satu tahun,” jelas Adi.
Menurutnya, perkembangan usaha para peserta akan dipantau melalui sistem pelaporan kepada Direktorat Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen sebagai bagian dari tracer lulusan yang menjadi indikator keberhasilan program.
Adi menambahkan, SKB Demak juga akan membantu membuka akses pemasaran bagi para peserta dengan memperkenalkan jasa mereka kepada masyarakat, termasuk melalui jaringan internal dan grup komunikasi yang dimiliki.
“Kami akan mencoba membantu mengenalkan usaha mereka, termasuk kepada masyarakat melalui grup-grup yang kami miliki agar jasa para peserta bisa lebih dikenal dan memperoleh pelanggan,” pungkasnya. (Nungki)



