Hutan Mangrove Rusak, Monyet Liar Masuk Pemukiman Serang Bayi 4 Bulan

KORANPELITA.CO – Aksi monyet liar yang masuk ke permukiman warga kembali menelan korban. Seekor monyet liar dilaporkan menyerang seorang bayi perempuan berusia empat bulan di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, hingga menyebabkan luka serius dan harus menjalani operasi bedah.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (2/2) kemarin. Saat kejadian, korban bernama Areta Aghnia Prameswari sedang tertidur di dalam kamar, sementara sang ibu berada di bagian belakang rumah. Tanpa disadari, monyet liar masuk ke dalam rumah dan langsung menyerang bayi tersebut.

Kapolres Demak AKBP Arizal Samelino Gandasaputra melalui Kapolsek Sayung AKP Suprapto membenarkan kejadian itu. Menurutnya, pihak kepolisian telah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan berupaya menangkap monyet liar yang diduga menjadi pelaku.

“Anak itu berada di kamar tidur, ibunya di belakang rumah. Monyet masuk dan langsung menyerang. Kami sudah ke TKP untuk melakukan penangkapan, namun monyet tersebut kembali kabur ke area hutan mangrove. Informasi dari warga, ada sekitar tiga ekor monyet liar,” ujar Suprapto saat dikonfirmasi, Rabu (4/2/2026).

BACA JUGA:  Bupati Tangerang Apresiasi Peran Pers Peduli Sosial dan Lingkungan, JMSI Berbagi  Santunan

Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka cukup parah di bagian kepala dan tubuh akibat cakaran monyet. Bayi malang itu langsung dilarikan ke RSUD Demak untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

“Korban mengalami luka cakaran dan robek di bagian kepala. Sudah dilakukan tindakan bedah dan saat ini kondisinya berangsur membaik serta dirawat di ruang perawatan biasa,” jelas Kapolsek.

Menurut Suprapto, kemunculan monyet liar di kawasan permukiman Desa Bedono diduga kuat akibat kerusakan ekosistem hutan mangrove di sekitar wilayah pesisir tersebut. Berkurangnya sumber makanan alami membuat kawanan monyet turun ke rumah-rumah warga untuk mencari makan.

“Wilayah itu memang dekat dengan hutan mangrove, namun sebagian sudah rusak dan kering. Ekosistem makanannya berkurang, sehingga monyet sering masuk ke permukiman,” terangnya.

BACA JUGA:  Masyarakat Kampung Adat Miduana Terbukti Mampu Menjaga Keseimbangan Ekologis dan Keadilan Sosial Secara Turun Temurun

Menindaklanjuti keresahan warga, Polsek Sayung telah melakukan upaya penangkapan sejak Selasa siang hingga sore hari. Petugas bahkan sempat memancing monyet menggunakan pisang, namun hewan tersebut berhasil melarikan diri.

“Kami menunggu sampai sekitar pukul 16.00 WIB. Monyet sempat datang saat dipancing pisang, tetapi ketika didekati langsung kabur,” kata Suprapto.

Sementara itu, warga setempat Bambang mengungkapkan bahwa teror monyet liar sudah lama dirasakan masyarakat pesisir. Ia menyebut, awalnya warga menganggap keberadaan monyet tidak berbahaya dan sering memberinya makan.

“Awalnya kami pikir tidak apa-apa, kalau datang dikasih makan. Tapi namanya hewan liar, perilakunya tidak bisa ditebak. Sekarang sudah ada beberapa korban, bahkan di Surodadi ada yang digigit,” ungkap Bambang.

Ia menambahkan, selama ini monyet liar kerap mengambil makanan dan dagangan warga seperti pisang dan pepaya. Kondisi tersebut membuat warga kini hidup dalam ketakutan, terlebih karena jumlah monyet yang berkeliaran lebih dari satu ekor.

BACA JUGA:  Kasdim 0510/ Tigaraksa Hadiri Pemusnahan BB Narkoba Kejari Tigaraksa 

“Masalahnya bukan cuma satu, yang terlihat ada lebih dari tiga ekor monyet liar. Warga jadi takut, apalagi sudah ada korban,” pungkasnya.

Hingga kini, pihak kepolisian masih berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menangani keberadaan monyet liar dan mencegah terulangnya kejadian serupa. (Nungki)