
TEHERAN, koranpelita.co – Para pekerja di Iran mogok dan bentrokan di jalanan tak terbendung dan meletus di seluruh negeri atas kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi.
Dari laporan kantor berita aljazeera.com, Sabtu (08/10/2022) para siswi sekolah maupun pekerja wanita, mereka meneriakkan slogan-slogan, para pekerja mogok dan bentrokan jalanan meletus di seluruh Iran dalam aksi unjuk rasa atas kematian Mahsa Amini. Unras sudah memasuki minggu keempat.
Kemarahan berkobar setelah kematian soarang wanita Iran-Kurdi berusia 22 tahun pada 16 September, tiga hari setelah dia ditangkap oleh ‘polisi moralitas’ karena dugaan pelanggaran kode pakaian ketat untuk wanita Iran.
Investigasi dari aparat pemerintah setempat menemukan bahwa Amini meninggal karena penyakit yang sudah berlangsung lama dan bukan karena “pukulan” di kepala, pada hari Jumat (07/10) silam, meskipun keluarganya dilaporkan mengatakan bahwa dia sebelumnya sehat-sehat saja. Tetapi protes terus berlanjut pada hari Sabtu (08/10).
Pemerintah telah menggambarkan unras tersebut sebagai plot oleh musuh-musuh Iran termasuk Amerika Serikat, menuduh pembangkang bersenjata, antara lain kekerasan dimana-mana setidaknya 20 anggota pasukan keamanan telah dilaporkan tewas.
Presiden Iran, Ebrahim Raisi, berbicara kepada para profesor dan mahasiswa. “Mereka (musuh Iran) dapat mencapai tujuan jahat mereka,” ungkap Raisi.
“Tanpa sepengetahuan mereka, mahasiswa dan profesor kami waspada dan tidak akan membiarkan musuh mewujudkan tujuan jahat mereka,” pintanya pada wawancara di TV Iran.
Di kampung halaman Mahsa Amini, di Saqez, di provinsi barat Kurdistan, siswi-siswi terdengar meneriakkan “Perempuan, kehidupan, kebebasan” dan terlihat berbaris di jalan sambil mengayunkan jilbab diatas kepala mereka, dalam video yang menurut kelompok hak asasi Hengaw direkam pada hari Sabtu (08/10).
Dalam video lain yang dibagikan, sekelompok gadis terdengar melantunkan kalimat yang sama ketika mereka memasuki sebuah sekolah di Sanandaj, ibu kota provinsi Kurdistan.
Video mengerikan dibagikan secara luas di Twitter tentang seorang pria yang tampaknya telah terbunuh saat duduk di belakang kemudi mobilnya di Sanandaj, di mana tembakan terdengar di rekaman lainnya.
Seorang pejabat polisi mengatakan pasukan keamanan tidak menggunakan peluru tajam dan pria itu dibunuh oleh “kontra-revolusioner”, kata kantor berita negara IRNA melaporkan. (red1)


