
SEMARANG, koranpelita.co – Dengan adanya kenaikan harga BBM jenis Petralite membuat banyak masyarat menjerit. Dampaknya pun sangat signifikan, tidak saja berdampak pada nilai ekonomi tetapi juga berimbas pada aspek sosial masyarakat.
Marbun (47 tahun) seorang warga di Kedungmundu Kota Semarang, mengtakan bahwa dirinya susah dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari sebagai penjual sayuran keliling menggunakan mobil Daihatsu Espas pick up nya.
“Saya beli petralite susah pak, selain antri panjang juga belinya dibatasi. Sehari mobil saya gak boleh 100 ribu. Jadi saya biasanya keliling jauh sekarang hanya bisa jualan dekat-dekat rumah saja,” kata Marbun, di Semarang, Kamis (15/9) kemarin.
“Seratus ribu hanya dapat 10 liter pak. Lha saya gak bisa kemana-mana lagi,” tambahnya dengan nada sedih.
“Saya juga sudah daftar di aplikasi My Pertamina pak tetapi saya masih menunggu verifikasi hasilnya, belum dikirim gambar barcode nya. Lalu kedepannya gimana ya, saya sudah pake barcode aplikasi My Pertamina dengan harga mahal lalu dibatasi jumlah liternya, gimana saya bisa jualan keliling, sembako juga merangkak naik harganya. Saya kan bayar beli bensinnya bayar tunai loh! Gak ngutang beli bensin pak, pusing saya!,” keluhnya.
Tim media akhirnya pada hari Sabtu (17/9/2022) mencoba mendatangi SPBU di sekitaran daerah Pedurungan Semarang Timur guna mengkonfirmasi permasalah warga.
“Ya pak, kami membatasi pembelian Petralite untuk mobil 120 ribu per hari,” kata petugas pengisian bensin yang tidak mau disebut namanya itu.
Lalu kami dari media bertanya, apakah pembatasan tersebut dikarenakan pasokan Petralite berkurang dari biasanya, petugas menyampaikan bukan karena pasokan yang terbatas. “Bukan karena pasokan terbatas, tetapi dari atasan kami disuruh membatasi penjaualan, pak” ungkapnya.
BBM tidak saja sangat diperlukan untuk operasional perusahaan namun juga bagi masyarakat kecil seperti Bapak Marbun, yang punya usaha kecil sebagai pedagang sayur keliling. Dengan kenaikan BBM sangat berpotensi meningkatkan angka pengangguran sehingga menambah tingkat kemiskinan di Indonesia.
Bukan hal yang tidak mungkin dengan meningkatnya angka kemiskinan dapat menimbulkan kekacauan secara serentak. Apakah pemerintah masih tidak mau belajar dari sejarah kejadian masa lalu. (er)


