
Bekasi, Koranpelita.co – Pemerintah Desa Lambangjaya bersama Koramil 01/Tambun melakukan penanaman pohon di kawasan Situ Cibeureum, Desa Lambangjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Kamis (08/01/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan Penanaman Sejuta Pohon yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan lingkungan di wilayah perkotaan yang terus terdesak alih fungsi lahan.
Penanaman dilakukan di sekitar bantaran situ yang selama ini berfungsi sebagai daerah resapan air sekaligus ruang terbuka hijau bagi warga. Sejumlah pohon jenis mentoa ditanam sebagai upaya memperbaiki kualitas ekosistem dan mencegah risiko banjir yang kerap mengancam kawasan padat permukiman.
Komandan Koramil 01/Tambun, Mayor CZI Sali, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk sinergi nyata antara TNI dan pemerintah desa dalam menjawab persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Menurutnya, pendekatan pencegahan melalui penanaman pohon jauh lebih efektif dibandingkan penanganan dampak bencana yang membutuhkan biaya besar.
“Penanaman pohon adalah investasi lingkungan jangka panjang. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah konkret untuk menjaga keseimbangan alam dan melindungi masyarakat dari ancaman banjir serta degradasi lingkungan,” kata Mayor Sali.
Kepala Desa Lambangjaya, Kimblan, menyebut Situ Cibeureum sebagai aset ekologis desa yang harus dijaga secara kolektif. Ia menilai keterlibatan aparat kewilayahan dan masyarakat menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak bisa ditangani secara sektoral.
“Kami mendorong agar kesadaran menjaga lingkungan tidak berhenti pada kegiatan ini. Pohon yang ditanam hari ini harus dirawat bersama karena manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang oleh warga,” ujar Kimblan.
Selain penanaman pohon, kegiatan ini juga menjadi momentum edukasi bagi warga untuk menjaga kebersihan situ dan tidak menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah. Lingkungan yang terawat dinilai berperan penting dalam menjaga kualitas air dan kesehatan masyarakat sekitar.
Pemerintah Desa Lambangjaya berharap kolaborasi lintas sektor ini dapat berlanjut dan menjadi model gerakan lingkungan di tingkat desa, terutama di kawasan penyangga perkotaan yang rentan terhadap kerusakan ekologi. (D.Z).


