Artikel ini dibuat oleh Muslim Arbi, Pengamat sosial
KORANPELITA.CO – Beberapa waktu lalu, Denny Indrayana, pengacara dari Integrity lawyers mencuatkan peristiwa Goldengate yang memaksa Presiden Amerika Richard Nixon mundur dari jabatan nya.
Guru besar hukum tata negara itu bersuara dari Meulbern, Australia. Mendesak DPR agar, Presiden Joko Widodo di Makzulkan. Apa pasal nya. Kata Putra Kalimantan itu.
Ada tiga hal yang membuat Jokowi harus segera di Makzulkan.
Pertama: Jokowi memperdagangkan jabatan. Itu adalah tindakan korupsi. Dan itu perbuatan Korupsi. Dengan membiarkan Anak nya: Gibran dan Kaesang memiliki saham ratusan miliar dari perusahaan pembakar hutan. Sebagaimana Laporan Ubedillah Badrun ke KPK.
Kedua: Seorang Mentri harus di periksa KPK Karena diduga lakukan 4 kasus korupsi. Karena berada di koalisi dukung Jokowi. Dia di lindungi oleh Jokowi saat mau di periksa KPK. Karena pemeriksaan harus se izin presiden.
Ketiga: Jokowi membiarkan Moeldoko, Staf Presiden ajukan gugatan PK setelah gagal di gugatan ON maupun PT untuk rebut Partai Demokrat ke Mhkamah Agung. Ini penghianatan terhadap konsitusi Negara dalam hal pendirian Partai Politik.
Keberadaan Denny Indrayana, mantan wakil Mentri Hukum dan HAM di era SBY ini sebagai publik teringat Geogre Yunus Adi Tjondro. Pernah menulis buku, Gurita Ciekas. Di saat SBY sedang berkuasa sebagai Presiden.
Denny dan Adi Tjondro sama – sama melakukan aksi nya dari Australia. Bisa jadi negara Kanguru itu menjamin ke amanan para pendatang dapat beraktivitas politik. Gerakan separatis Papua pun sering lakukan aksi protes terhadap pemerintah RI di Kedubes RI di Meulbern.
Aksi Denny soal desakan agar DPR dapat memakzulkan Jokowi dari kursinya belum mendapat sambutan hangat dari para penghuni Senayan. Meski demikian kekuatan dan kaum Oposisi di dalam negeri mendapat tambahan darah segar serang Istana – Jokowi.
Mengapa DPR, belum memproses Surat Terbuka ke DPR Makzulkan Jokowi? Padahal surat terbuka Pemakzulan itu sangat argumentatif didasari bukti pelanggaran UU yang fatal dan tak terbantahkan. Baru Fraksi Demokrat yang kaji surat tersebut. Fraksi lain bobo sambil ngorok?
Bisa jadi para penghuni Senayan sudah merasa nyaman dengan posisi mereka yang tinggal menghitung bulan. Out sebagai anggota legislatif dan tidak terima gaji lagi. Meski membiarkan Presiden berbuat semaunya. Langgar UU dan tanpa kontrol. Bisa jadi para Ketum partainya telah kena sawer agar tidak termakan “Isu Denny”. Atau Proposal Pemakzulan Presiden Denny.
Atau, bisa juga jika para penghuni Senayan berani proses pemakzulan sebagaimana proposal Denny. Jangan – jangan mereka akan di geledah dosa – dosa hukum ke KPK atau ke Kejaksaan agung dan sebagainya.
Tiga pekan lalu, Putri Ariani mendapat Golden Buzzer, saat ikuti audisi di AGT : America Got Talenta. Dia menyanyikan dua lagu. Loneliness, karyanya sendiri dan Seems to See the Hardest Word yang di nyanyikan oleh Elton Jhon.
Meski alami keterbatas fisik karena tuna netra tetapi kemampuannya di atas manusia normal. Sama seperti Legenda musisi Dunia, Stevie Wonder.
Putri Arini menempati posisi trending di 30 negara di dunia. Dia membawa harum nama Indonesia.
Ketika Putri, kelahiran Bangkinang dan menetap di Jogyakarta itu perkenalkan diri: I am from Indonesia.
Saya ikut bangga dan terharu dengan bahasa Inggrisnya sangat bagus dan sempurna dengan di banding presidennya. Air mata saya pun ikut meleleh menyaksikan penampilan sang Putri Indonesia via hp.
Putri yang suaranya sangat merdu saat melantunkan ayat – ayat Al – Qur’an dan pintar main piano, patut mendapat penghargaan “Putri Terbaik” di Bangsa ini dan juga ummat Islam patut berbangga dan berterima kasih kepada kedua Orang Tua: Ismawan Kurnianto, asal Jawa Sang Ayah dan Ibunda, Reny Afianty, asal Minangkabau.
Salut dan terima kasih buat Putri Arini dan kedua orang tuanya. Semoga Allah selalu merahmati dan memberkahi mu Putri dan Kedua Ayah – Bundanya. Barakallah.
Lain halnya dengan Para buzzerRp. Bukanlah Golden Buzzer dan Golden Gate. BuzzerRp menjadi benalu di iklim demokrasi yang sangat mengganggu. Jika negara ini benar terapkan demokrasi. Penguasa tidak perlu piara para buzzer. Kenapa para buzzerRp di piara dan di ternak. Bisa jadi rezim kebobolan atas kritikan yang dilancarkan oleh kaum Oposan di negeri ini.
BuzzerRp berusaha menutupi kegagalan rezim dan kebohongan atas janji – janji politiknya yang tidak pernah ditepati hingga jelang akhir kekuasaannya.
Kritikan dan serangan itu oleh kaum Oposan terhadap rezim bukan sebar hoax dan kebencian.
Kritik kaum Oposan sebagai rasa tanggung atas negeri agar tidak terpuruk dan makin terpuruk lebih dalam atas sejumlah langkah yang bikin rakyat semakin sengsara: hutang menumpuk, kesejahteraan rakyat makin terpuruk. Proyek Infrastruktur dibangun mahal di jual murah; akibatnya makin jadi beban negara. Rakyat hanya di Nina Bobokan dengan BLT. Suara – suara kritis: Seperti People Power. Mau di kriminalisasi?!.
Demokrasi dan hukum, serta konsitusi terancam, kehidupan sosial terancam. Kehidupan ekonomi terancam, perpolitikan nasional gonjang ganjing: Anies di bendung Rezim agar gagal capres. Partai pendukung nya sebagai Capres, di obok – obok. Dengan berbagai cara. Presiden berbuat se enak. Tanpa mentaati hukum dan UU yang ada.
Golden Gate, golden buzzer sama – sama Golden. Golden yang satu skandal intelejen, hukum, dan politik menjatuhkan seorang Presiden.
Golden Buzzer, mengharumkan nama Indonesia oleh Putri Ariani, menyihir puluhan juta warga dunia yang nonton acara tersebut.
BuzzerRp adalah benalu demokrasi yang merusak tatanan sosial dan kemasyarakatan. Meski sama-sama Buzzer namun BuzzerRp berkonotasi negatif. Beda dengan Golden Buzzer yang mengharumkan dan mengagumkan. Sedangkan Golden Gate menjatuhkan Presiden AS: Richard Nixon.
(***)



