Kota Tangerang,koranpelita.co – Pelanggan Air minum prodak Perumda (PDAM) Tirta Benteng Kota Tangerang mengeluh menyusul pendistribusian air sering “mati-hidup” sangat menganggu aktifitas warga.
Rizky, salah satu pelanggan Perumda TB di Kampung Sukamanah,Minggu (25/09/2022) mengatakan, sepekan ini air mati-hidup gak karuan tanpa ada pemberitahuan.
BACA JUGA : Dinkes minta Perawat Tingkatkan Pelayanan Kesehatan
“ Kucuran air mati, mulai pukul 03.00 sampai tengah hari itu terus berulang di setiap harinya saat nya pengelola BUMD ini dibenahi,” cetusnya.
Hal senada juga dikeluhkan pelanggan lainny Adi WA Grup Warga Kampung Sukamanah, Bahtiar. “Waduh… PDAM… air mati lagi mati lg mati melulu aja, bagaiman ini PDAM TB..?”
Celetukan jengkel pelanggan ini dijawab pelanggan-pelanggan lainnya dengan emosi yang nadanya mendukung kekecewaan pelanggan. Semisal, Darmaji, satu warga lainnya dengan kesal tercetus ajakan untuk “demo”.
Yang pasti,
“Buruknya layanan Perumda TB membuat slogan “Kota Tangerang Layak Huni” menjadi “Jauh Panggang Dari Api.” Lha, mau mandi enggak bisa, ambil air wudhu pun susah, termasuk membuang BAB yang repot jadinya. Bagaimana bisa hidup di Kota Tangerang disebut Layak Huni.
Pelanggan mendesak Walikota Tangerang harus ambil peran aktif mempersoalkan layanan buruk ini. Begitupun jajaran DPRD Kota Tangerang jangan membiarkan kekcewaan berat masyarakat Kota Tangerang yang memepercayakan kemajuan kota ini kepada mereka.
Pendistribusian air mati-hidup bermula dari pengambil-alihan pengelolaan layanan air PDAM dari Perumda Tirta Kerta Raharja (TKR) Kabupaten Tangerang ke Perumda Tirta Benteng (TB) pertengahan tahun 2021. Dalam pengalihan ini, produksi airnya tetap dikelola Perumda TKR, sedangkan distribusi berjaringannya dikelola Perumda TB.
Bila sebelumnya pengalihan, kucuran air ke rumah-rumah pelanggan normal-normal saja, kini “mati-hidup” hampir di setiap hari. Padahal, sebagian besar pelanggan PDAM khususnya di perkotaan Kota Tangerang menggantungkan aktifitas keseharian pada air PDAM, disebabkan air tanah yang buruk.
Kondisi itu, masih ditambah dengan petugas pencatat meter yang kekurangan tenaga sehingga sebelumnya terjadi ledakan tarif. Ternyata pula biaya rekening bulanan Perumda TB lebih mahal dari rekening bulanan ditagih Perumda TKR sebelumnya. (sam).



